Selasa, 07 Maret 2017

Review Tenda Hewolf Turtleback Series, Adopsi Bentuk Alam untuk Perlindungan Maksimal

Leave a Comment

Alam terkembang jadi guru. Rasanya pepatah Minang tersebut sangat pas untuk mengawali tulisan saya ini. Bagi masyarakat nusantara, kedekatan dengan alam telah melahirkan berbagai desain karya yang unik.
Taruhlah contoh berbagai rumah adat di nusantara yang bentuk atap dan bangunannya menyesuaikan dengan kondisi alam di sekitarnya. Alam memang tidak pernah habis menjadi sumber inspirasi desain bagi manusia untuk menciptakan produk-produk bermanfaat. Jika sobat punya pakaian beresleting, tahukah bahwa konon resleting mengadopsi bentuk tumbuhan pemakan serangga. Begitupun dengan helikopter yang baling-baling terbangnya mengadopsi cara capung terbang.

Tampil beda
Ternyata, desain yang mengadopsi purwapura alam ini juga dapat kita temukan di produk tenda outdoor. Seperti sering saya sebutkan, tenda atau shelter adalah peralatan esensial yang wajib dibawa para petualang yang menginap di alam bebas. Jika bentuk tenda biasanya merujuk pada desain dome, nampaknya brand Hewolf mencoba tampil beda dengan desain unik dari alam. Sebelumnya, Hewolf juga sempat merilis tenda yang desain frame-nya mengadopsi bentuk menyilang rapat mirip seperti bentuk tulang ikan yang saling bersilangan. Kini Hewolf kembali menghadirkan produk tenda premium, Hewolf Turtleback Series yang juga mengikuti konsep desain pendahulunya. Dari nama produknya saja, sobat pembaca sudah bisa menebak kira-kira pada maha karya alam apakah desain tenda ini merujuk. 

Spesifikasi 

Serba alumunium
Nama Brand = Hewolf Outdoor 
Asal negara = Tiongkok
Tipe = Tenda outdoor empat musim 2-3 orang
Material flysheet = 210T polyester PU 5.000mm
Material alas = 210D nylon oxford PU 6.000mm
Frame/Poles = 8.5mm Hewolf magnetic lightweight alumunium poles
Dimension = 215x135x110 cm (p*l*t) Weight = 2,88 kg
Lebar Vestibules = 60cm x 2
Accesories tambahan = pasak alumunium alloy 18 buah, tali guyline

Desain dan Bentuk

Hewolf Turtleback Series

Double door
Tenda Hewolf Turtleback Series berusaha tampil beda dengan mengadopsi bentuk yang unik. Jika lazimnya bentuk tenda merujuk pada desain dome (kubah), geodesic, ataupun semi-geodesic, saya agak kebingungan menentukan ke mana bentuk tenda ini dapat dikategorikan. Yang jelas, ketika melihat rangkanya berdiri, saya jadi terbayang dengan bentuk tempurung kura-kura yang kokoh dan solid. Ya, Hewolf Turtleback memang dibekali dengan magnetic frame standing berdiameter 8.5mm. Frame ini berperan penting dalam menentukan bentuk tenda. Terdapat tiga ruas frame yang sejajar satu sama lain. Tugas dari tiga frame ini adalah menopang atap tenda yang lebar. Saya cukup heran dengan pakem desain ini karena biasanya tenda hanya memiliki satu ruas frame yang berfungsi menyangga atap. Lah ini kok sampai tiga, hehe. Apa nggak berlebihan. Rupanya setelah tenda didirikan barulah kita dapat merasakan fungsi dari tiga ruas frame tersebut.

Rangka frame Hewolf dengan atap ruas tiga
Selain menopang atap, frame juga membentuk karakter tenda yang mirip dengan tempurung kura-kura. Frame ini memberi jarak yang lebar antara flysheet dengan lapisan inner. Air yang jatuh di atap akan segera mengalir dengan baik di sisi-sisi luar tenda sehingga tidak menimbulkan kondensasi di inner tenda. Kondensasi akibat air embun tentunya sangat tidak diharapkan di tengah suasana badai gunung yang menusuk tulang.


Selain itu, frame juga melindungi dengan baik tenda dari gempuran angin/badai gunung yang terkenal ganas dan tanpa ampun. Para penghuni tenda pun dapat dengan nyaman dan aman tidur di dalam tenda walau di tengah badai. Terlebih dibekalinya frame aluminium berdiameter cukup besar, 8.5mm membuat performa tenda ini semakin meyakinkan. Tinggi interior tenda berkisar 110 cm, masih cukup nyaman untuk melakukan berbagai aktifitas di dalam tenda. Apalagi Hewolf sengaja memberikan space lebar di dalam tenda sebagai imbas dari desain rangka atap ruas tiga yang lega.

Interiornya lega
Sisi plus lain dari desain tenda ini adalah adanya dua teras yang cukup lebar (60cm) di kedua pintu tenda. Nampaknya desainer sengaja menyediakan dua space teras ini untuk memberi kenyamanan tambahan bagi pengguna. Seperti diketahui, banyaknya peralatan pendakian yang dibawa seringkali tidak semuanya terakomodasi di dalam tenda. Kalaupun tetap masuk, space kita untuk berbaring tentunya akan berkurang sehingga mengurangi kenyamanan beristirahat. Dengan adanya kompartemen ini, barang-barang penting yang rawan basah tetap terakomodasi di dalam tenda tanpa harus mengurangi space istirahat kita. Adanya teras yang lebar juga memungkinkan kita dapat memasak makanan di bagian dalam tenda meski di tengah hujan deras atau badai sekalipun.

Waktu mendirikan tenda


Seperti tenda-tenda modern pada umumnya, tidak terlalu sulit untuk merangkai dan mendirikan tenda ini. Saya sendiri butuh waktu sekitar 10-15 menit untuk memasang semua komponen tenda hingga tegak berdiri. Pendirian tenda semakin terasa nyaman dengan adanya fitur magnetic yang disematkan pada frame tenda. Frame seperti mudah sekali tersambung tanpa perlu bersusah payah layaknya dua kutub magnet yang tarik menarik. Untuk mempercepat pendirian tenda, kerjasama tim sangat berperan penting. Dibutuhkan sedikit kesabaran agar proses merangkai frame ke dalam inner tenda dapat berjalan mulus.

Kapasitas


Menurut spesifikasi resmi, tenda ini dapat digunakan oleh 2 orang pendaki dengan tetap memasukkan barang bawaaan ke dalam tenda. Jika tanpa barang bawaan, mungkin tenda masih muat diisi oleh tiga orang. Packing yang ringkas dan tidak terlalu memakan tempat jika dimasukkan ke dalam carrier menjadi satu keunggulan tenda ini. Jika dipacking dengan rapi, tenda ini dapat dipacking dengan ukuran sekitar 50x15 cm. Lebih nyaman lagi apabila pendakian dilakukan oleh beberapa orang. Bagian-bagian tenda, seperti flysheet, inner, dan frame dapat dipisah-pisah dan dibagikan ke anggota tim sehingga berat tenda dapat terdistribusi secara merata.

Ketahanan terhadap cuaca


Seperti telah saya singgung sebelumnya, desain tenda yang mengadopsi bentuk dari alam menjadi poin keunggulan tersendiri untuk bertahan dari cuaca gunung yang ekstrem. Kombinasi antara rangka frame yang tebal dengan ketebalan flysheet maupun alas yang di atas rata-rata juga semakin menambah performa tenda ini. Apalagi dengan tambahan fitur four seasonnya. Untuk cuaca pegunungan Indonesia, tenda three seasons sebenarnya sudah cukup mumpuni. Namun tidak mengapa menggunakan tenda berspesifikasi empat musim, khususnya menambah segi ketahanan dari air hujan dan cuaca dingin.

Hewolf menawarkan spesifikasi material flysheet 210T waterproof coating plaid dengan ketahanan PU hingga 5.000mm. Spek tersebut sudah sangat bagus untuk menahan cuaca hujan deras di gunung-gunung Indonesia. Jahitan tenda juga terkesan rapi dan dilapisi dengan seal tahan air di bagian dalamnya. Selain itu, alas tenda dengan spesifikasi 210D nylon oxford juga memiliki ketahanan PU yang tinggi yakni 6.000mm, khas tenda-tenda empat musim. Material alas terbuat dari bahan nylon plaid yang lebih tahan rembes dan lebih ringan dibanding material terpal. Dengan spesifikasi tersebut, saya rasa tenda ini sudah sangat dapat diandalkan.

Untuk mencegah kondensasi, saran saya sebaiknya perlu mencermati cara memasang tenda yang benar. Setelah tenda berdiri sempurna, pancangkanlah tali guyline di berbagai sisi-sisi tenda. Pastikan tali tersebut terpancang dengan kencang ke dalam pasak yang tertancap di tanah. Pasang semua pasak yang ada, jumlahnya cukup banyak hingga 18 buah pcs. Jangan lupa, pilihlah lokasi pendirian tenda yang datar dan relatif terlindung dari hembusan angin secara langsung. Jika masih khawatir dengan rembesan air di bawah tenda, kita dapat memasang aksesoris seperti footprint atau alas tenda terlebih dahulu sebagai pelapis tambahan.

Verdict=Kesimpulan

Dari segi harga dan performa, saya optimis tenda ini dapat direkomendasikan kepada para pecinta kegiatan outdoor. Memang jika Anda termasuk pecinta ultralight hiking garis keras akan sedikit mempertimbangkan berat tenda yang mencapai 2,88 kg. Namun ini merupakan konsekuensi logis dari peningkatan performa tenda dalam menghadapi cuaca ekstrem di gunung (ingat frame 8.5mm yang lebih tebal dan flysheet serta alas yang lebih tinggi spesifikasinya). Bobot tenda yang terlalu ringan juga berimbas pada menurunnya performa ketahanan tenda. Meski termasuk tenda entry level di deretan tenda premium, namun kualitas yang ditawarkan juga sangat sesuai dan tidak mengecewakan. Terlebih dari segi bentuk dan desain yang terkesan unik sehingga membuat kita tampil beda di antara deretan tenda lainnya.
Read More...

Selasa, 16 Februari 2016

Review Tenda Premium Ultralight Longsinger 2P Four Seasons

12 comments

Kegiatan outdoor, khususnya naik gunung kini semakin berkembang pesat. Naik gunung tidak lagi menjadi kegiatan eksklusif bagi komunitas pecinta alam, namun telah menjelma sebagai hobi kekinian bagi sejuta umat. Ini tentunya tidak terlepas dari gencarnya promosi kegiatan naik gunung di berbagai media, khususnya situs-situs travelling dan media sosial. Istilahnya kamu nggak dianggap masuk golongan anak kekinian bro kalau belum nyobain naik gunung. Dengan semakin ngetrendnya kegiatan ini, konsekuensinya tentu peralatan mendaki yang dulunya cuma itu-itu aja kini menjadi sangat beragam. Salah satunya yakni tenda. Tenda merupakan kebutuhan wajib bagi setiap pendaki. Apalagi bagi pendaki yang berniat camping di gunung. 

Dulu, model tenda bisa dibilang sangat terbatas dan hanya didominasi oleh merk-merk tertentu. Fungsinya hanya untuk berlindung dari ganasnya cuaca gunung. Sekarang tenda tidak hanya dituntut aman sebagai tempat berteduh, tetapi juga memiliki banyak fitur lainnya. Tren tenda yang mulai ngehits di Indonesia adalah produk tenda ultralight atau super ringan. Ciri khas dari produk ini adalah penggunaan frame alumunium alloy sebagai pengganti frame fiber yang konvensional. 


Kan capek tuh bro, udah naik gunung nanjaknya berat, masih juga harus bawa-bawa tenda yang beratnya 5 kg-an. Belum item-item lainnya.Nah tujuan adanya tenda ultralight adalah guna memangkas berat barang bawaan kita sehingga lebih nyaman di punggung. Produsen peralatan outdoor asal Tiongkok kini mulai serius melirik pasar ini. Tenda-tenda ultralight bikinan mereka dijual dengan harga yang lebih murah dari produsen Eropa, namun tentunya dengan kualitas yang tidak mengecewakan. Kali ini saya berniat mereview salah satu produk tenda ultralight asal Tiongkok, yaitu Tenda Premium Ultralight Longsinger 2P Four Seasons.

Dari namanya kan udah dapat ditebak kira-kira seperti apa fitur unggulan tenda berlambang rusa yang akan saya bahas ini. Pertama, dari namanya, bisa direka kalau tenda ini dipasarkan bagi kalangan pecinta outdoor yang sudah mengenal betul seluk beluk kualitas tenda. Sebab dengan harganya yang premium, para konsumen sudah nggak bertanya-tanya lagi, kok harganya mahal sih. Memang harga selalu berbanding lurus dengan kualitas yang disajikan. Untuk pasar tenda empat musim yang mengusung konsep ultralight, harga tersebut masih dianggap cukup bersahabat. Kalau nggak percaya, tengok saja harga tenda UL empat musim keluaran brand-brand Eropa/Amerika. Bisa bikin meriang kalau nggak siap hahaha.

Spesifikasi


Nama Brand = Longsinger 
Asal negara = Tiongkok 
Tipe = Tenda outdoor empat musim 2-3 orang
Material flysheet = 190T waterproof coating plaid PU 3000mm
Material alas = 190T waterproof coating plaid PU 5000mm
Poles = 8.0mm lightweight alumunium poles
Dimension = 225 * 203 * 107 cm (p*l*t) Weight = 2,4 kg
Accesories tambahan = pasak alumunium alloy, tali guyline

Desain dan Bentuk 


Tenda Longsinger ini mengadopsi bentuk geodesic dome. Bentuk tenda semacam ini dinilai punya ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi angin/cuaca buruk dibanding bentuk dome biasa. Untuk rangkanya, tenda ini dilengkapi dengan tiga frame alumunium alloy. Dua frame yang ukurannya lebih besar untuk membentuk rangka utama tenda. Sedangkan satu frame yang lebih kecil untuk membentuk interior tambahan yang fungsinya sebagai kompartemen penyimpan barang. Tinggi interior tenda berkisar 107 cm, masih cukup nyaman untuk melakukan aktifitas di dalam tenda.


Yang unik dari desain tenda ini adalah adanya kompartemen tambahan pada sisi bagian dalam pintu tenda. Kompartemen ini tentunya masih bagian dari inner tenda (masih beralas) namun sedikit menjorok ke luar. Nampaknya desainer sengaja menyediakan space ini untuk memberi kenyamanan tambahan bagi pengguna. Seperti diketahui, banyaknya peralatan pendakian yang dibawa seringkali tidak semuanya terakomodasi di dalam tenda. Kalaupun tetap masuk, space kita untuk berbaring tentunya akan berkurang sehingga mengurangi kenyamanan beristirahat. Dengan adanya kompartemen ini, barang-barang penting yang rawan basah tetap terakomodasi di dalam tenda tanpa harus mengurangi space istirahat kita. Flysheet tenda juga dilengkapi dengan garis reflective paint yang akan menyala ketika tersorot cahaya dari luar. Ini memudahkan kita untuk mencari lokasi tenda pada malam hari.

Waktu mendirikan tenda


Seperti tenda-tenda modern pada umumnya, tidak terlalu sulit untuk merangkai dan mendirikan tenda ini. Saya sendiri butuh waktu sekitar 10-15 menit untuk memasang semua komponen tenda hingga tegak berdiri. Untuk mempercepat pendirian tenda, kerjasama tim sangat berperan penting. Dibutuhkan sedikit kesabaran agar proses memasukkan frame ke dalam inner tenda dapat berjalan mulus.

Kapasitas


Menurut spesifikasi resmi, tenda ini dapat digunakan oleh 2 orang pendaki dengan tetap memasukkan barang bawaaan ke dalam tenda. Jika tanpa barang bawaan, mungkin tenda masih muat diisi oleh tiga orang. Packing yang ringkas dan tidak terlalu memakan tempat jika dimasukkan ke dalam carrier menjadi satu keunggulan tenda ini. Jika dipacking dengan rapi, tenda ini dapat dipacking dengan ukuran sekitar 50x15 cm. Lebih nyaman lagi apabila pendakian dilakukan oleh beberapa orang. Bagian-bagian tenda, seperti flysheet, inner, dan frame dapat dipisah-pisah dan dibagikan ke anggota tim sehingga berat tenda dapat terdistribusi secara merata.

Ketahanan terhadap cuaca


Seperti saya singgung sebelumnya, desain tenda (geodesic dome) menjadi poin keunggulan untuk bertahan dari cuaca gunung yang ekstrem. Apalagi dengan tambahan fitur four seasonnya. Untuk cuaca pegunungan Indonesia, tenda three seasons sebenarnya sudah cukup mumpuni. Namun tidak mengapa menggunakan tenda berspesifikasi empat musim, khususnya menambah segi ketahanan dari air hujan dan cuaca dingin.


Longsinger menggunakan material flysheet 190T waterproof coating plaid dengan ketahanan PU hingga 3.000mm. Spek tersebut sudah sangat bagus untuk menahan cuaca hujan deras di gunung-gunung Indonesia. Jahitan tenda juga terkesan rapi dan dilapisi dengan seal tahan air di bagian dalamnya. Selain itu, alas tenda ini juga memiliki ketahanan PU yang tinggi yakni 5.000mm, khas tenda-tenda empat musim. Material alas terbuat dari bahan nylon plaid yang lebih tahan rembes dan lebih ringan dibanding material terpal. Dengan spesifikasi tersebut, saya rasa tenda ini sudah sangat dapat diandalkan.

Untuk mencegah kondensasi, saran saya sebaiknya perlu mencermati cara memasang tenda yang benar. Setelah tenda berdiri sempurna, pancangkanlah tali guyline di berbagai sisi-sisi tenda. Pastikan tali tersebut terpancang dengan kencang ke dalam pasak yang tertancap di tanah. Pasang semua pasak yang ada. Jangan lupa, pilihlah lokasi pendirian tenda yang datar dan relatif terlindung dari hembusan angin secara langsung. Jika masih khawatir dengan rembesan air di bawah tenda, kita dapat memasang aksesoris seperti footprint atau alas tenda terlebih dahulu sebagai pelapis tambahan.

Kesimpulan

Dari segi harga dan performa, saya optimis tenda ini dapat direkomendasikan kepada para pecinta kegiatan outdoor. Meski termasuk tenda premium, namun kualitas bahan yang ditawarkan juga sangat sesuai dan tidak mengecewakan. Terlebih dari segi bentuk dan desain yang terkesan unik sehingga membuat kita tampil beda di antara deretan tenda lainnya. Fitur unik lain yang sangat saya apresiasi dari tenda ini adalah kompartemen tambahan yang nyaman untuk menyimpan barang. Saya berharap produsen-produsen tenda lokal dapat melirik geliat pasar tenda ultralight seperti ini sehingga bisa bersaing dengan produk impor.

Salam outdoor. Semoga bermanfaat.
Read More...

Kamis, 05 November 2015

Review NG 1/100 Avalanche Exia, Berkreasi dengan Decals

Leave a Comment
Lama hengkang dari dunia pergundaman karena waktu yang terbatas, saya akhirnya kembali nyemplung ke hobi menarik ini. Penyebabnya tidak lain adalah rasa kangen untuk kembali bisa mengutak-atik, menyusun potongan-potongan plastik kecil jadi robot yang keren. Melihat robot rakitan bisa berdiri gagah di sudut kamar, berkilau di bawah sorot cahaya lampu, sungguh menjadi kebahagiaan tersendiri. Ceileh. Terakhir kali merasakan sensasi merakit gunpla adalah ketika saya menyelesaikan MG Sandrock Versi EW keluaran GaoGao sekitar satu tahun lalu. 


Setelah blusukan keluar masuk situs dalong dan berbagai situs review gundam lainnya, saya kepincut sama satu model yaitu NG 1/100 Avalanche Exia dari seri Gundam 00V. Alasannya simpel, saya suka sama bodinya yang keliatan gendut dan bantet karena armor tambahan di tangan, punggung, dan kakinya. Bagi saya, kalau liat gundam yang kurus kering minim aksesoris itu kurang menarik. Mirip seperti gundam exia standar yang tampil ramping, sehingga kurang begitu saya suka.

Tentang Model


Avalanche Exia merupakan versi pengembangan gundam exia yang ditujukan untuk dapat bermanuver pada kecepatan tinggi. Hal ini untuk meningkatkan performa exia yang masih kalah cepat bermanuver dibanding lawan-lawannya, seperti Union Flag atau AEU Enact. Untuk mendukung fungsi ini, avalanche exia dilengkapi dengan beberapa GN condenser yang dipasang di bahu, tungkai kaki, dan backpacknya. Tambahan inilah yang membuatnya tampil lebih bantet dibanding gundam exia biasa. Selain tambahan tersebut, persenjataan yang dipakai masih standar dan mirip dengan yang dipakai exia, yakni seven swords, GN sword, dan GN shield.

Beberapa catatan tentang Avalanche Exia



Model yang saya beli berada pada grade NG 1/100 yang artinya hampir sama dengan grade HG namun dengan skala yang lebih besar. Dari segi parts memang tidak sedetail MG, namun masih lebih detail dibanding versi HG 1/144. Model ini hanya dilengkapi dengan beberapa sticker standar yang menurut saya masih terlalu polos untuk mempercantik gundam ini.



Detail panel-panel lining pada part di gundam ini cukup bagus. Ini bisa jadi bahan ekspresi buat belajar lining. Untuk lining, saya cukup menggunakan snowman drawing marker berwarna hitam ukuran 0.05mm yang saya peroleh di toko merah Jogja. Bagian favorit yang wajib di lining terutama pada part-part GN condensernya di tangan, kaki, bahu, dan punggung. Dengan memberi lining, gundam ini akan terlihat semakin cantik dan lebih detail per bagian-bagiannya.

Decalisasi


Jujur saja saya kurang puas jika gundam tampil polos tanpa decals. Apalagi saya lebih memilih tidak mencat ulang gundam yang saya rakit. Selain karena faktor biaya, waktu yang terbatas juga membuat saya berpikir ulang untuk mengecat ulang. Jadi decals menjadi pilihan utama untuk membuat gundam rakitan saya terlihat lebih custom.



Sebelum memasang decals, ada baiknya kita memiliki peralatan yang memadai. Bukannya sok expert sih, tapi dengan peralatan-peralatan ini pekerjaan memasang decals akan terasa lebih mudah dan menyenangkan. Oh ya, saya membeli decals di otakiridecals, sebuah toko hobby yang ada di Jogja. Beberapa peralatan yang saya maksud, antara lain :

1. Mr. Mark Setter, sejenis larutan khusus yang fungsinya membuat decals kita lebih mudah menempel di permukaan plastik gunpla. Oleskan sedikit di permukaan plastik sebelum menempelkan decals. Cairan ini juga mempermudah kita untuk menggeser-geser decals di posisi yang kita inginkan tanpa merusaknya.

2. Mr. Mark Softer, mirip dengan yang di atas, tapi cairannya lebih bening dan encer. Fungsinya untuk menyatukan decals yang telah terpasang pada plastik gunpla. Cukup sedikit saja oleskan cairan ini pada decals yang sudah terpasang, dan diamkan hingga benar-benar mengering (jangan diutak-atik). Hasilnya, decals akan lebih menyatu sehingga mirip seperti tercetak pada permukaan plastik, bukan sekedar menempel.

3. Tweezers atau pinset khusus, ini jadi tools terakhir yang wajib dimiliki sebelum memasang decals. Pasalnya, pinset akan menambah akurasi kita dalam memasang decals dibanding memakai tangan kosong yang mudah berkeringat.

4. Tusuk gigi dan cotton bud. Tusuk gigi nggak usah beli kayaknya, tinggal ambil seperlunya di meja makan emak atau warung burjo dekat kosmu. Fungsinya untuk menggeser-geser decals, sebelum kita yakin benar di mana decals terpasang. Sedangkan cotton bud berguna untuk mengeringkan cairan sisa Mr. Mark Setter/Softer yang ada.
Read More...

Selasa, 03 November 2015

Review Tenda Langya 2/3P

8 comments

Kegiatan outdoor seperti naik gunung, camping, dan menjelajahi alam kini tengah digandrungi anak muda Indonesia. Diawali dengan booming film tentang pendakian cinta, “5cm”, peminat kegiatan outdoor kian bertambah banyak setiap tahunnya. Gunung-gunung pun yang semula sepi kini ibarat menjadi pasar tumpah di kala weekend. 

Yak guys, untuk mendukung hobi kegiatan outdoormu, pemilihan perlengkapan menjadi kunci penting. Sebab hobi outdoor itu bukan seperti piknik atau jalan-jalan ke mall. Kamu berhadapan dengan alam bebas yang punya risiko terhadap keselamatan kamu. Salah satu item yang penting adalah tenda/shelter. Tenda sangat penting untuk memberi perlindungan dari cuaca ekstrem dan menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat. So, cermati baik-baik sebelum memilih tenda yang tepat.

Saya sih pengennya tenda yang harganya murah tapi nggak murahan. Yang penting udah double layers jadi aman dipakai pas musim hujan. Beratnya enteng, gak bikin capek dibawa kemana-mana. Packingnya ringkes dan nggak ribet, syukur-syukur muat dimasukin daypack. Trus ada terasnya buat naruh barang. Ingat, harus murah lho, soalnya budget saya masih kantong pelajar. Btw, emang ada ya tenda murah dengan kriteria ini? (Ini rata-rata keinginan para pecinta kegiatan outdoor Indonesia)

Produk tenda yang ingin saya review kali ini adalah Tenda Langya 2/3P. Nama brand Langya mungkin belum begitu familiar di kalangan pecinta outdoor Indonesia. Namun jangan salah, produsen asal Tiongkok yang satu ini tidak sembarangan dalam menjaga kualitas item-item outdoornya. Mari kita simak reviewnya. 

Spesifikasi 

Nama Brand  = Huangshan Langya Outdoor                                   Company 
Asal negara   = Tiongkok 
Tipe               = Tenda outdoor 2-3 orang 
Flysheet     = 190T polyester, PU2000mm                                   imported adhesive tape edging 
Inner Tent     = 190T polyester, air                                                 permeable+B3 mesh 
Floor             = 150D oxford, PU3000mm 
Poles             = fiber glass poles 
Dimension    = 205×140×110cm camping tent 
Weight          = 2,1 kg 
Accesories    = stakes, guyline 

Desain dan Bentuk

Tenda Langya 2/3P mengadopsi bentuk dome atau kubah. Untuk rangkanya, tenda ini dilengkapi dengan dua frame. Tinggi interior tenda berkisar 110 cm, cukup longgar untuk duduk dan beraktifitas di dalam tenda. Satu hal yang unik dari tenda ini adalah desain dua pintu yang mengapit kedua sisi tenda. Ruang kosong di antara pintu dan flysheet berfungsi sebagai teras (vestibule). Panjang vestibule berkisar 60 cm sehingga terdapat space sekitar 120cm yang dapat dimanfaatkan. Hal ini sangat bermanfaat untuk menyimpan perlengkapan mendaki kamu, seperti sepatu, peralatan memasak, dan tas. Dengan demikian, interior tenda akan terasa lebih lega dan nyaman digunakan beristirahat. 

Waktu mendirikan tenda
kelengkapan tenda
Karena desainnya yang cukup simpel, seorang pendaki yang berpengalaman dapat mendirikan tenda ini dalam waktu yang singkat. Saya sendiri butuh waktu kurang dari 10 menit untuk memasang semua komponen tenda hingga tegak berdiri. Sistem pengait antara inner dan frame sangat memudahkan pendaki untuk memasang tenda ini karena kita tidak perlu memasukkan frame ke dalam lapisan inner seperti desain tenda keluaran lama.

Kapasitas 

Menurut spesifikasi, tenda ini dapat digunakan oleh tiga orang pendaki jika tanpa memasukkan barang bawaaan ke dalam tenda. Jika dengan barang bawaan, tenda disarankan hanya dipakai oleh dua pendaki. Packing ringkes, muat dimasukkan ke dalam daypack. Hal lain yang saya suka dari tenda ini adalah ukuran packingnya yang sangat ringkas sehingga muat dimasukkan ke dalam daypack. Jika dipacking dengan benar, tenda ini dapat dilipat sedemikian rupa dengan ukuran packing sekitar 45x15 cm. Lebih nyaman lagi apabila pendakian dilakukan oleh beberapa orang. Bagian-bagian tenda, seperti flysheet, inner, dan frame dapat dipisah-pisah dan dibagikan ke anggota tim sehingga berat tenda akan terasa jauh lebih ringan. 

Ketahanan terhadap cuaca
Untuk bertahan dari cuaca gunung yang ekstrem, desain tenda harus solid dan kokoh. Langya mengandalkan flysheet dengan ketahanan PU yang cukup tinggi, yakni 2.000mm. Spek tersebut sudah sangat mumpuni untuk bertahan dari cuaca hujan deras di gunung-gunung Indonesia. Jahitan tenda juga telah dilapisi dengan seal tahan air di bagian dalamnya. Selain itu, alas tenda ini juga memiliki ketahanan PU yang tinggi yakni 3.000mm. Material alas terbuat dari bahan 150D oxford atau biasa dikenal dengan nylon yang lebih tahan rembes dan lebih ringan dibanding material terpal. 

Untuk mencegah kondensasi, perancang tenda nampaknya sengaja memberi jarak yang cukup longgar di antara inner dan flysheet sehingga keduanya tidak saling menempel. Saran saya agar tenda dapat maksimal bertahan dari badai gunung, sebaiknya perlu mencermati cara memasang tenda yang benar. Setelah tenda berdiri sempurna, pancangkanlah tali guyline di keempat sisi-sisi tenda. Pastikan tali terpancang dengan kencang ke dalam pasak yang tertancap di tanah. Pasang semua pasak yang ada. Jangan lupa, pilihlah lokasi pendirian tenda yang datar dan relatif terlindung dari hembusan angin secara langsung. Jika masih khawatir dengan rembesan air di bawah tenda, kamu dapat memasang aksesoris seperti footprint atau alas tenda terlebih dahulu sebagai pelapis tambahan. 

Kesimpulan
Overall Saya cukup puas dengan performa tenda yang satu ini sehingga berani saya rekomendasikan ke pecinta kegiatan outdoor lainnya. Dengan harga yang tidak terlalu mahal, tenda ini dapat mencukupi kebutuhan para pendaki di gunung Indonesia, khususnya untuk pendakian gunung dengan tim kecil. Selain itu, kita masih dapat mengupgrade tenda ini untuk menjadikannya lebih ringan dengan membeli frame alumunium alloy dan pasak alumunium. 

Salam outdoor. Semoga bermanfaat.
Read More...

Rabu, 28 Oktober 2015

Gundam, Mainan Yang Membawa Kenangan Masa Kecilku

Leave a Comment
“Udah gede kok masih mainan robot-robotan?”. “Kurang lama ya jadi anak-anaknya”. 


Pertanyaan itulah yang mungkin sering dilontarkan orang ketika melihat kita yang notabene udah segedhe gaban gini masih asyik ngutak-atik mainan, hehehe. Entah itu berupa action figure, model kits militer, mobil-mobil die cast, maupun gundam plastic models seperti yang saya gandrungi. Ya meski umur sudah mencapai seperempat abad, rasanya masih belum bosan sama mainan yang satu ini.

Sebenarnya sih bukan murni mainan juga, karena lebih tepat disebut sebagai benda koleksi yang berharga. Toh ‘mainan’ itu lebih banyak dipajang untuk dinikmati keindahannya dibanding dimain-mainkan seperti mainan lainnya. Berharga bukan karena nilai ekonominya namun karena nilai kenangan yang terkandung di dalamnya. Ceileh.

Awal mula kenalan sama si Gundam 

Kisahnya, satu ketika saya yang waktu itu masih bocah (kelas 4 SD), diajak orang tua berbelanja ke sebuah mall di kota Purwokerto. Waktu itu, kami sekeluarga memang sedang berlibur ke rumah pakdhe yang baru saja pindah dinas ke sana. Tentu saja sebagai anak-anak, saya langsung menuju ke counter mainan di mall tersebut.

Gundam jadul yang pertama saya kenal
Perhatian saya tertuju pada tumpukan box mainan bergambar robot yang sangat keren. Ada berbagai macam jenis, mulai dari robot yang bisa berubah menjadi pesawat tempur hingga tank. Saya memilih satu box bergambar robot tank. Untunglah waktu itu, orang tua sedang ada rejeki sehingga tanpa harus merengek-rengek saya pun berhasil membawanya pulang. Sesampainya di rumah, bayangan saya robot itu sudah langsung jadi tinggal pasang-pasang bagiannya. Namun saya salah. Di dalam box ternyata terdapat puluhan potongan plastik yang nyaris tidak menunjukkan itu sebuah robot. Lha trus mana robotnya nih, gumam saya waktu itu.

Setelah bertanya dengan orang yang lebih tua barulah saya tahu. Alamak robotnya masih harus dirakit. Ada buku manual yang kira-kira menjadi petunjuk bagaimana cara merangkainya menjadi robot yang utuh. Awalnya dengan modal nekat saya coba merangkainya sendiri dengan mengikuti buku manual. Yaa namanya masih kecil, daya pikir saya yang terbatas belum bisa memahami instruksi dalam manual itu sehingga robot pun gagal diselesaikan.

Barulah setelah mendapat bantuan kakak sepupu yang sudah duduk di bangku SMP, mainan robot itu berhasil diselesaikan. Kenangan masa kecil itu kadang kembali terlintas ketika saya sedang merakit gundam. Usut punya usut, robot yang saya beli waktu itu adalah HG RX-75 Guntank. Sayangnya si robot sekarang tinggal potongan-potongan kecil yang tidak utuh lagi karena terlalu sering saya mainin haha.

Kenapa laki-laki dewasa masih tertarik pada mainan? 

Gundam itu mengajarkan pentingnya proses, mencapai sesuatu nggak bisa instan tapi dinikmatin prosesnya
Ada pepatah Inggris yang cukup populer, “Boys will always be boys”. Artinya kurang lebih anak laki-laki akan selalu menjaga sebagian sifat kekanak-kanakannya meski ia sudah beranjak dewasa. Berbeda dengan kaum perempuan yang jika sudah dewasa akan dewasa sepenuhnya. Contohnya nih, pernah liat nggak bro ibu-ibu atau mbak-mbak yang sudah dewasa masih suka ngoleksi boneka barbie lengkap dengan rumah-rumahannya dan baju-baju gantinya. Atau ibu-ibu yang udah gendong anak tapi masih suka koleksi mainan yang dulu mereka sukai semasa kecil. Jawabannya tentu sangat sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada. Inilah yang membedakan kaum adam dan hawa. Sehingga jangan heran kalau sebagian besar pecinta aneka mainan seperti yang saya sebutkan di atas didominasi kaum pria.

Satu lagi alasan mengapa laki-laki tetap hobi mainan meski udah gede adalah mainan itu seperti menjadi penghubung dengan kenangan masa kecilnya. Masa di mana si laki-laki masih menjadi anak-anak yang bebas bermain dan belum terbebani aneka tanggungjawab sebagai orang dewasa. Ketika menyentuh mainan itu seperti ada sebagian memori indah di masa lalu yang disuntikkan ke pikirannya sehingga menimbulkan perasaan bahagia. Yang sekarang ngoleksi action figure kamen rider mungkin dulu pas kecil ngefans banget sama karakter satria baja hitam di TV. Kalau hobi die cast mobil mungkin karena masa kecilnya dipenuhi dengan aneka mainan bergenre alat-alat transportasi.

Saya sendiri mengapa mengoleksi gundam, karena sejak kecil saya sangat menggandrungi serial-serial animasi bergenre mecha (robot mekanik). Entah itu bikinan Jepang atau Amerika. Pokoknya kalau ada kartun yang menampilkan aksi robot-robot yang bisa bertarung hampir pasti saya tonton. Sebut saja, Astroboy, Voltron, Patlabor, Power Ranger, Transformer, Gundam, dan masih banyak lagi. Apalagi ketika menemukan mainan dari karakter robot itu di mall, rasanya sungguh berbunga-bunga.
Read More...

Rabu, 28 Januari 2015

Ultralight Hiking, Mendaki Gunung dengan Beban Ringan namun Tetap Aman

15 comments
Temen-temen yang sudah akrab menggeluti kegiatan alam bebas pasti sudah sangat paham apa saja keluhan-keluhan yang sering menghinggapi para hiker dalam upayanya mencapai puncak-puncak tertinggi. Yaah banyak banget rintangan dan keluhan kalau mau di-list atu-atu, seperti hawa dingin yang menusuk, trek gunung yang nggak kenal ampun, gigitan pacet, sampai cuaca yang sulit ditebak (lebih sulit nebak hatimuu #ealah). Dari berbagai keluhan itu, sebenarnya ada satu hal yang paling krusial yakni beratnya beban di pundak yang harus dibawa pendaki (nggak seberat beban hidup sih). 

Pegel ya gan gendong beginian
Terkadang pendaki harus membawa keril yang beratnya mencapai puluhan kilo yang berisi tetek bengek peralatan hiking dan logistik pendakian, mulai dari ranselnya sendiri yang udah berat, tenda atau rumah keong, matras, sleeping bag, jaket, jas hujan, peralatan masak, pakaian ganti, toga wisuda #eh, dll. Apalagi jika durasi perjalanannya sampai berhari-hari, beban keril ini konon bisa mencapai 30 kg!!! (mirip karung beras dah). Nggak mengherankan kalo pendaki akrab sama joke-joke macem gini, “Ke gunung kok bawa kulkas om atau Itu ransel muat diisi bocah kali ya, berat bingit kayaknya”, dan segudang joke-joke lainnya.

Aku.... lelah kak
Karena membawa beban yang terlampau berat dalam durasi berjam-jam, efeknya ya bisa ditebak. Pendaki jadi mudah lelah (aku lelah berjalan katanya), lebih banyak berhenti di jalan, punggung pegal-pegal, serta dengkul dan lutut yang mudah bengkak. Ketika sampai di tempat peristirahatan, kita pun ingin cepat-cepat beristirahat, meringkuk ke dalam sleeping bag, di dalam tenda karena tubuh yang sudah sangat lelah. Padahal momen-momen kayak gini harusnya sangat pas kita manfaatkan buat bercengkerama menikmati suasana malam di gunung yang aduhai bersama rekan2 pendaki lain. Menikmati hangatnya api unggun dan tenteramnya hati karena kebersamaan, beratapkan langit malam berhias kerlap-kerlip bintang bersama kamu #ceileh. Tapi ya gimana lagi lha wong badan udah capek, merengek minta istirahat, akhirnya cuman bisa menikmati suasana itu di alam mimpi. 

Trus bagaimana solusinya!!!

Pilih gendong tas yang kanan apa kiri
Minum Mastin! (salah fokus). Rupanya keluhan-keluhan ini tidak hanya dimonopoli para pendaki di Indonesia saja lho. Para penikmat kegiatan hiking di negara-negara lain pun sudah lama sama-sama merasakannya. Adalah Ray Jardine, seorang penggiat kegiatan alam bebas asal negeri paman sam, pertama kali memperkenalkan konsep baru dalam pendakian yakni kegiatan hiking super ringan alias ultralight hiking, yang sering disingkat menjadi UH. Dalam bukunya yang berjudul “Beyond Backpacking – Guide to Lightweight Hiking”, om Jardine menjelaskan secara detail mengenai prinsip-prinsip UH hingga ke perancangan peralatan hiking yang ringan dan inovatif. Naaaah dari sinilah saya ingin ngebahas dikit-dikit tentang konsep UH.

UH merupakan konsep memanajemen perjalanan dalam kegiatan alam bebas dengan cara mengurangi seminimal mungkin beban yang harus dibawa traveller tanpa harus mengorbankan aspek keamanan dalam perjalanan itu. Jadi sederhananya, kita diajak untuk pintar-pintar dalam memilah peralatan pendakian yang tepat guna, dengan pertimbangan bobot yang ringan. Hal ini tentunya membutuhkan perencanaan perbekalan yang matang dari para pendaki. Kuncinya bukan dengan meninggalkan peralatan-peralatan pendakian yang utama, seperti tenda atau sleeping bag, namun menggantinya dengan peralatan yang punya bobot lebih ringan atau mencari barang yang memiliki banyak fungsi.

Biar lebih gampang, berikut beberapa contoh penerapan konsep UH secara sederhana yang pernah saya pelajari

1. Shelter

Salah satu contoh tenda ultralight asal China
Shelter atau tempat berlindung merupakan kebutuhan wajib bagi para pendaki untuk bertahan dari ganasnya cuaca gunung. Shelter yang paling umum dibawa pendaki ya tenda atau rumah keong-keongan. Dalam konsep UH, pendaki disarankan memilih tenda berbobot super ringan. Biasanya tenda ini memiliki karakteristik tersendiri, seperti frame dan pasaknya terbuat dari bahan alumunium pesawat yang super ringan namun kokoh, ketimbang bahan fiber seperti pada umumnya. Sebuah tenda UH rata-rata berbobot 1,5 kg – 2 kg dengan kapasitas single atau 2 orang.

Produsen tenda luar negeri asal AS atau Eropa sudah lama melihat peluang ini sehingga banyak produk mereka yang ada di pasaran alat outdoor Indonesia. Harganya ya, jangan ditanya, pokoknya sering bikin sakit hati. Beli tenda aja bisa setara sama UM kredit motor 3 biji wkwk. Kalau saya sih menyiasatinya dengan memakai produk tenda UH asal China yang harganya lebih bersahabat namun tetap memiliki fungsi yang sama.

Hammocking udah jadi tren tersendiri dalam dunia outdoor luar negeri. Btw, boleh ikutan nggak mbak hehe
Bagi para pecinta UH garis keras, malah udah bener-bener move-on dari tenda. Dengan bangga mereka menyebut dirinya sebagai hammockers. Ya ini karena mereka memakai shelter berupa hammock. Itu lho benda mirip ayunan gantung di pohon yang biasanya buat tidur-tiduran di pantai. Mereka mengklaim hammock itu bener-bener soulmate-nya para pecinta UH karena selain bobotnya yang enteng bingits, juga sangat praktis untuk dikemas dalam tas, serta katanya sih bisa pules buat tidur. FYI, UH hammock bobotnya cuman ½ kg beroooh. Namun hammock juga memiliki beberapa kekurangan, seperti tidak adanya privasi (nggak bisa buat mesra-mesraan, khusus buat yang udah nikah) dan perlindungan cuaca yang relatif minim. 

2. Keril dan Sleeping Bag

Untuk saat ini setia dulu sama Cozmeed
Seperti yang sudah saya katakan, para pecinta UH sudah lama meninggalkan model keril ala-ala kulkas atau “gendongan bayi” yang volumenya 70-75l. Keril ideal bagi konsep UH cukup bervolume 30-40l saja dan tentunya sangat ringan. Jadi kalau dilihat mungkin modelnya lebih mirip backpack atau semi keril aja. Produsen lokal yang sudah cukup baik membidik konsep ini belum banyak, yang saya perhatikan adalah brand Eiger, Consina, atau Cozmeed. 

Untuk sleeping bag rada-rada susah sih, soalnya aturan kunci dalam pemilihan SB itu udah pakem yakni bobot vs kenyamanan dan ketahanan cuaca. Semakin ringan bobot SB biasanya tingkat kenyamanan dan pertahanannya dari hawa dingin juga berkurang. Namun setidaknya yang bisa jadi patokan, SB jangan kelewat berat atau kelewat ringan. Pilihlah yang pertengahan dan kita merasa benar-benar nyaman dengannya. Produk lokal yang saya percaya untuk saat ini adalah Eiger dengan SB model muminya.




3. Alas tidur dan matras

Matras alumunium

Matras tidur yang biasanya memakai matras karet TNI bisa disiasati untuk meminimalisir bobotnya dengan matras alumunium foil yang beratnya setara dengan berat sebungkus mie instan. Harganya nggak mahal-mahal amat kok, sekitar 60-80 ribu rupiah. Dan matras jenis ini saya rasa sudah cukup baik mengisolasi hawa dingin dari tanah, cuman nggak begitu empuk. 

Sleeping pad yang warna ijo
Kalau mau yang ekstra empuk dan tetap ultralight, ada peralatan khusus bernama sleeping pad. Mirip seperti kasur tiup namun dengan bentuk lebih kecil untuk ukuran satu orang dan memang ciamik buat kemping. Ukuran packing paling cuman sebesar botol air mineral. Soal harga jangan ditanya ya gan, bisa sakit hati lagi ntar hehehe. Sebuah Sleeping pad merk kenamaan kayak Klymit Static V harganya bisa 5 kali lipat harga kasur busa di kosanmu.

4. Gimmicks yang bisa disiasati

Ane ma temen2 biasa bikin teh cuman berbekal trangia cola
Gimmicks adalah bahasa keren dari printilan peralatan-peralatan outdoor yang bisa dikonversi menggunakan konsep UH. Beberapa di antaranya, seperti coba saya sebutkan satu per satu, seinget saya aja ya. Kompor portabel seharga Rp 150.000 dan tabung gasnya bisa diganti dengan trangia cola dan bahan bakar spirtus 600 ml. Saya rasa teknik ini cukup reliabel untuk pendakian-pendakian singkat dan keperluan sederhana seperti merebus air dan menghangatkan makanan. Secara, trangia cola alias kompor spirtus DIY ini bikinnya gampang, tinggal cari di Youtube tutorial cara bikinnya. 

Murmer
Jas hujan atau ponco biasanya saya cuman bawa jas hujan plastik HDPE seharga Rp 5.000 yang biasanya dipakai pak tukang becak hehe. Selain sangat ringan juga murmer dan disposabel. 

Baju dan Celana

Nampang dulu pake jersey kw2an
Untuk kedua item ini sangat direkomendasikan guys and brooo sebaiknya menghindari untuk membawa kaos yang terbuat dari bahan katun (cotton). Dari hasil ngublek-ngublek forum2 pendakian, saya dapat ilmu kalau bahan katun itu sebenarnya kurang begitu cocok untuk kegiatan mendaki gunung karena mudah menyerap kelembapan dan sulit mengering. Sehingga ketika basah lepek-lepek kena keringat atau lembab bisa bikin pemakainya kedinginan yang jika parah berujung pada kondisi hipotermia. Bahan yang ideal sih ya pakaian khusus buat pendakian. Cuman yaaaaa, lagi-lagi harganya bikin sakit hati. Saya mensiasatinya dengan memakai kaos bola alias jersey-jersey (yang kw aja biar ramah di kantong). Bisa juga dengan kaos-kaos lain asalkan bahannya tetap terbuat dari polyester atau nilon (ini bisa dilihat dari label merk dalam kaos). Bahan tersebut lebih cepat kering, menguapkan keringat, dan lebih ringan tentu saja. Hal ini juga berlaku dalam memilih celana untuk kegiatan mendaki. Sooo guys, stop ikut-ikutan pendaki 5cm yang pada pake jeans yaaa.

Sekian pengalaman tentang ultralight hiking yang dapat saya bagikan kepada teman-teman semua. Patut dicatat untuk mempraktekkan konsep UH butuh proses belajar dibarengi praktek di alam bebas yang kontinyu. Saya pribadi juga masih harus banyak belajar kepada rekan-rekan pendaki senior yang lebih dulu mempraktekkannya. Semoga memberi manfaat...

Tulisan ini juga dipublikasikan di situs Phinemo.com, http://phinemo.com/6-barang-yang-dapat-disiasati-agar-pendakian-lebih-ringan/
Read More...