Senin, 30 Januari 2012

Tradisi Minum Teh ala Indonesia

8 comments
Teh Poci
Sebagai penikmat teh, saya bingung juga kalau ditanya, sebenernya Indonesia punya tradisi minum teh nggak sih?. Kalau di Inggris dikenal adanya tradisi afternoon tea, di Jepang terkenal adanya cha no yu, begitu juga di beberapa negara Asia Timur lainnya seperti China, Taiwan, maupun Korea. Pada umumnya mereka mempunyai budaya minum teh yang unik dengan pakemnya masing-masing. Lalu bagaimana dengan Indonesia???. Sebenarnya masyarakat kita telah mengenal teh sejak lama. Mungkin masyarakat Tionghoa-lah yang pertama kali memperkenalkan teh ke Indonesia. Mereka membawa tradisi minum teh dari kampung halamannya di China ketika menetap di nusantara. Namun, tanaman teh baru didatangkan secara besar-besaran ke Indonesia pada masa penjajahan Belanda dari asalnya di Lembah Assam, India. Sejak saat itu, munculah perkebunan-perkebunan teh yang dikelola oleh kompeni dengan tenaga kaum pribumi. Teh menjadi komoditas ekspor yang menggiurkan bagi Belanda kala itu.

Yak biar nggak terlalu berbelit-belit, akan saya mulai dengan menceritakan tradisi nge-teh di keluarga saya. Keluarga saya tinggal di Solo, sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang terkenal sebagai pusatnya kebudayaan jawa. Di keluarga kami, teh adalah minuman wajib yang harus tersedia tiap pagi dan sore. Wajib hukumnya, karena kalau telat sebentar saja pasti orang rumah sudah bertanya-tanya kok nggak ada yang bikin teh?. Biasanya simbah saya lah yang mengerjakan tugas tersebut setiap harinya. Namun terkadang ibu dan adik juga ikut membantu. Beliau sudah bangun dari jam 4 pagi. Seusai sholat subuh, simbah segera memasak air (nggodhog wedhang, bahasa jawanya). Jam 5 biasanya air sudah mulai mendidih. Setelah itu, barulah simbah menyiapkan racikan tehnya. Oh ya racikan teh di tiap keluarga bisa berbeda-beda meskipun jenis teh yang digunakan hampir selalu sama, teh hitam. Di Solo terdapat berbagai macam merk teh lokal yang umum dijumpai, seperti Gopek, Nyapu, Gardhu, dan Sintren. Ada keluarga yang hanya memakai satu merk saja. Namun ada juga yang mencampur (mem-blend) beberapa merk teh untuk menghasilkan citarasa teh yang diinginkan. Untuk mem-blend teh nggak bisa ngasal, dibutuhkan pengetahuan dasar mengenai ciri khas dari masing2 merk teh tersebut. Contohnya nih, teh A dipilih karena aroma melati-nya. Teh B karena rasa tehnya yang sepet (tahu kan artinya :D). Teh C dipilih untuk menghasilkan warna teh yang kemerah-merahan. Lha kalo di keluarga saya fanatik banget nih sama merk Gopek, Nyapu,dan Sintren. Ketiganya sudah jadi resep baku untuk meracik teh di keluarga kami.

Lanjut yah, racikan teh tadi dimasukkan ke dalam porong atau poci kemudian diseduh dengan air mendidih dan dibiarkan beberapa saat sembari mengerjakan rutinitas lain. Setelah kira2 ½ jam, barulah simbah menuangkan tehnya ke dalam gelas2 yang sudah diberi gula dan diencerkan dengan air panas. Patokan agar rasanya pas (tidak terlalu sepet/encer), teh yang dituang sebaiknya tidak melebihi ¼ tinggi gelas. Sedangkan untuk gulanya, takarannya tergantung selera. Saya sendiri lebih suka teh yang rasanya mondo-mondo (pertengahan antara manis dan tawar). Jadi inget cerita simbah nih, jaman simbah dulu yang namanya gula pasir masih jarang sekali. Mungkin karena produksinya tidak sebanyak sekarang dan hanya kalangan tertentu saja yang bisa memperolehnya. Namun orang dulu nggak kurang akal. Sebagai substitusi, yang dipakai ya gula jawa. Cara menikmati tehnya pun cukup unik. Jadi sebelum menyruput teh, terlebih dahulu menggigit potongan gula jawa. Barulah tehnya diminum, rasa manisnya akan tercampur di dalam mulut :D. Mirip sama cara ngetehnya orang Iran.

Menikmati segelas teh panas di sore hari sambil bercengkrama bersama keluarga benar2 nikmat. Apalagi kalau ditemani aneka gorengan lengkap dengan cabai rawitnya. Obrolan demi obrolan serasa mengalir bersama hangatnya wedang teh yang masuk ke kerongkongan. Mulai dari cerita2 ringan, kisah masa lalu, curhatan dari anak ke orang tua, sampai gosip yang lg hangat di kampung. Benar2 surga dunia :D. What a quality time. Bersamaan dengan gelas teh yang mulai bocor karena habis diminum :P, adzan maghrib berkumandang. Kami pun mengakhiri obrolan dan bergegas menunaikan sholat. Momen2 hangat seperti ini sangat saya rindukan ketika berada di perantauan.

Teh Sebagai Minuman Pergaulan

Di Indonesia, teh bisa dibilang minuman favorit nomor dua setelah air putih. Kita begitu mudah menjumpainya di setiap tempat dan kesempatan. Di jawa, khususnya daerah pedesaan jawa tengah, Anda hampir akan selalu disuguhi dengan segelas wedang teh oleh tuan rumah ketika bertamu. Jika kita berbasa-basi, “Nggak usah repot2 lho buk, pak” maka si empunya rumah dengan sopan akan menjawab, “Alah mung banyu we kok mas” (Alah, cuman air aja kok mas). Teh yang disuguhkan pasti rasanya manis. Karena menyuguhkan minuman dengan rasa yang manis merupakan suatu kehormatan bagi tuan rumah. Rasanya kurang sopan kalau menyajikan teh dengan rasa yang tawar kecuali atas permintaan sang tamu sendiri.

Teh selain sebagai minuman favorit juga merupakan minuman pergaulan. Di jogja dan solo, di setiap sudut kota kita akan mudah menjumpai warung-warung kecil yang buka menjelang maghrib hingga tengah malam atau bahkan ngebyar sampai pagi. Kalau di jogja namanya angkringan, sedangkan di solo dan klaten lebih dikenal dengan sebutan warung HIK (hidangan istimewa kampung). Setiap malam, warung2 HIK akan didatangi oleh masyarakat dari berbagai kalangan yang ingin melepas penat. Mulai dari penarik becak, buruh, pns, pengusaha, seniman, anak muda, hingga mahasiswa berkumpul dan mengobrol santai di tempat ini. Lantas, minuman apa yang mereka nikmati sambil ngobrol???. Jawabannya sih bisa sangat bervariasi. Namun saya yakin, teh-lah minuman yang paling sering dipesan.

Teman saya, orang solo, punya cara yang unik untuk menilai apakah sebuah warung hik layak direkomendasikan dan dijadikan tempat nongkrong atau tidak. Caranya sangat simpel, katanya “Delok wae, teh e enak opo ora” (Lihat saja, tehnya enak atau tidak). Membuat segelas teh yang nikmat ibarat basic knowledge yang harus dikuasai oleh setiap penjual HIK dan orang2 yang berniat berkecimpung dalam bisnis itu imbuhnya. Logikanya sederhana kalau bikin tehnya aja belum mahir, gimana bisa yakin kalau wedang jahe bikinannya juga mantep. Katanya lagi konon di solo ada seorang tea master yang sering mampir dari satu warung hik ke warung hik lain. Karena keahliannya itu, dia sering dimintai tolong memberi masukan pada para newbie yang baru bisnis warung HIK. Umumnya setiap penjual hik mempunyai resep racikan teh yang khas. Untuk menjaga kerahasiaan, jarang dijumpai penjual yang meracik tehnya di tempat jualan. Ada penjual yang sudah membungkusnya dalam plastik2 kecil. Kalau stok wedang tehnya habis, tinggal dibuka dan diseduh.

Saya kemudian mencoba menyimpulkan, budaya menikmati teh di Indonesia memang tidaklah seformal dan serumit budaya ngetehnya orang Jepang, China, atau Inggris. Namun bukan berarti hal itu menjadikan budaya kita kurang bermakna. Tinggal kita yang pandai mencari nilai filosofis yang terkandung di balik khasanah budaya yang kita miliki. Sebagai contoh, di tegal terkenal dengan sajian teh pocinya yang banyak dijumpai di warung2 kecil. Sebagai pemanis tidak memakai gula pasir tetapi gula batu. Untuk menikmati teh poci tidak diaduk, melainkan hanya digoyang2 sedikit cangkirnya sehingga gula batunya larut. Nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, hidup tidak langsung manis namun butuh proses, kesabaran, dan perjuangan untuk menikmati kemanisannya di akhir (kok mirip iklan yak, hahaha). Masih banyak tradisi nge-teh di daerah lain yang belum saya gali lebih dalam. Misalnya di daerah Sumatra ada penyajian teh yang dicampur dengan telur atau susu. Saya akan sangat senang jika ada pembaca yang mau sharing tentang pengalaman nge-tehnya :D :D :D

Some interesting trivia
-Jenis teh yang paling sering dipakai adalah teh hitam (black tea)
-Pakem membuat teh nikmat ala orang jawa adalah GINASTEL - legi (manis), panas, sepet, kenthel (kental)
-Porong teh tidak boleh dicuci dengan air sabun tapi hanya dibilas memakai air panas. Kerak yang terkumpul dan menempel di porong selama bertahun-tahun konon menambah kenikmatan teh
-Di setiap acara hajatan di jawa biasanya ditunjuk seseorang yang bertanggungjawab dalam hal penyajian teh. Hanya satu orang karena dipercaya tiap tangan akan menghasilkan rasa teh yang berbeda
-Bolehkah teh dipakai untuk minum obat???. Sebaiknya minum obat menggunakan air putih karena kandungan teh dapat menghambat efektifitas kerja obat

8 komentar:

  1. suka banget sama artikelnya bermutu :D hahaha kebetulan ini lagi bikin karya ilmiah tentang Teh, makasih banyak ya! :D

    BalasHapus
  2. sama2, terimakasih jg sdh mampir. Smg artikelnya bermanfaat^^

    BalasHapus
  3. kisah yang menarik. mirip kisah keluarga saya dan tentunya beberapa keluarga lain di Solo dan sekitarnya.

    BalasHapus
  4. Salam kenal Pak, inilah yang bikin ngeteh di rumah Solo selalu ngangeni...

    BalasHapus
  5. ijin nyimak Gan,.....cukup bagus ulasannya, karena sy sedang mencari-cari artikel tentang budaya

    BalasHapus
  6. Terimakasih gan udah mampir di blog saya. Monggo kalau mau dikutip, asal jangan lupa nyertain sumbernya :D

    BalasHapus
  7. Teh paling kenthel itu merk apa pak. Teh nyapu, sintren atau gopek ya pak?!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gopek pak, kalau nyapu lebih ke wangi melatinya yang khas

      Hapus