Kamis, 01 Maret 2012

Serunya Cave Tubing di Gua Pindul

Leave a Comment

Bagi para penggemar wisata petualangan alam mungkin udah gak asing sama yang namanya caving atau susur gua. Caving adalah salah satu jenis wisata minat khusus yang saat ini sedang banyak digandrungi para wisatawan. Aktifitas yang ditawarkan adalah wisatawan diajak masuk ke gua2 alam dengan berjalan kaki sembari menikmati keindahan stalaktit dan stalakmit di dalamnya. Tapi gimana rasanya ya kalau caving dilakukan di atas ban pelampung. Mungkin pada awalnya akan terdengar janggal. Ngapain coba kok harus pake ban pelampung. Biar nggak penasaran silakan membaca artikel petualangan saya ke gua pindul yang terletak di desa bejiharjo, karangmojo, gunungkidul, DIY. Enjoy.....

Petualangan ke gua pindul ini berawal dari ajakan seorang teman buat ngadain acara kumpul bareng anak2 kkn. Maklum sudah hampir setengah tahun kami nggak bertemu, kangen rasanya hehehe. Ada seorang teman yang mengusulkan, gimana kalau caving ke gua pindul. Tapi katanya harus pake ban pelampung. Awalnya saya pun bertanya-tanya, kenapa kok harus pake ban segala. Setahu saya, yang namanya gua itu bisa dijelajahi cukup dengan berjalan kaki. Ingatan saya kembali melayang ke pengalaman masa kecil ketika mengunjungi gua2 alam di daerah pacitan seperti gua gong dan gua tabuhan. Rupanya di sinilah keunikan gua pindul.

Gua pindul merupakan gua horizontal sepanjang 300 meter yang terbentuk karena proses alam di daerah pegunungan kapur. Berbeda dengan gua horizontal pada umumnya, di bawah gua ini mengalir sungai bawah tanah yang alirannya cukup tenang. Kedalamannya bervariasi, antara 3-5 meter. Inilah alasan mengapa ketika caving di gua pindul pengunjung diwajibkan memakai ban pelampung. Trus kira2 aman gak buat orang yang gak bisa renang?. Hehe, awalnya pasti merasa was-was. Tapi nggak perlu khawatir karena kita akan selalu didampingi pemandu berpengalaman selama menjelajahi gua. Tambahan lagi, gak bakal tenggelam deh kalau udah pake live jacket.

Ketika saya dan temen2 sampai di lokasi, kami tidak bisa langsung menjelajahi gua karena harus antri terlebih dahulu. Tarif yang dipatok buat sekali caving 30 ribu per orang dengan durasi antara 45 menit sampai 1 jam. Fasilitas yang termasuk dalam paket antara lain pemandu plus perlengkapan komplit seperti live jacket, ban pelampung, sepatu, dan asuransi. Sebenarnya di lokasi ini juga ditawarkan paket wisata lain yaitu susur sungai dengan ban pelampung dan caving di gua gelatik. Tapi kami sepakat memilih caving di gua pindul.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tiba giliran rombongan kami. Sebelum memulai perjalanan, pemandu menjelaskan peraturan dan pantangan2 selama menjelajahi gua. Tadaaaaaaaaaaaaaaa, petualangan pun dimulai. Satu per satu teman2 terjun ke sungai dengan ban pelampungnya masing2. Awalnya saya kebingungan gimana caranya mengendalikan ban. Karena agak panik, kami saling terpisah dan terbawa arus sungai. Untunglah pemandu segera sigap turun tangan dan menyarankan agar kami saling bergandengan tangan. Waaaaa bukan muhrim donk pak hehehe. Tenang, masih bisa diakali kok dengan berpegangan ke tali yang melilit di ban.

Stalaktit berbentuk mirip sarang lebah
 Sesampainya di mulut gua, pemandu menjelaskan gua pindul terbagi ke dalam tiga zona. Pertama adalah zona terang, kemudian zona remang-remang (warung kali :P), dan yang terakhir zona gelap abadi. Memasuki interior gua, saya segera dibuat takjub dengan keindahan stalaktit dan stalakmit yang ada di dalamnya. Subhanallah benar2 indah... Batu2 ini terbentuk oleh rembesan air kapur yang menetes terus menerus selama ratusan tahun. Ketika disorot lampu, tampak warnanya putih bersih seperti kristal yang berkilauan. Bentuk dan ukurannya bermacam2. Salah satu yang cukup unik adalah stalaktit berbentuk sarang lebah yang menggantung di langit2 gua. Tiba2 pak pemandu bertanya memecah keheningan. Sasarannya adalah teman saya yang berada di rombongan paling depan. “Mbak tahu nggak bedanya stalaktit sama mbak?”. Wuaaaa tanda2 nih, saya segera dapat membaca situasi ^_^. “Bedanya apa pak?”. “Kalau stalaktit nempelnya di atas gua, lha kalau mbak nempelnya di hati”. Geeeeeeeeeeeerrrrr, segera suasana berubah menjadi riuh. Dasar, ni bapak bisa juga jurus gombal. Untung tadi gak ada pantangan dilarang ngegombal hahahahaha.


Memasuki zona gelap abadi, pandangan mata amatlah terbatas. Satu2nya cahaya hanya berasal dari lampu yang dibawa pemandu. Ketika berada di zona ini cobalah untuk hening sejenak. Kesunyian akan begitu terasa. Apalagi ketika pemandu mematikan lampunya. Gelap total. Rasanya seperti terputus dari dunia luar. Saya tidak bisa melihat apa-apa. Hanya sesekali terdengar suara tetesan air dan kicauan burung penghuni gua. Saya kemudian berpikir mungkin seperti inilah suasana ketika setiap insan manusia masih berada di dalam kandungan. Atau seperti inikah yang dirasakan saudara kita yang kebetulan tidak dianugerahi indra penglihatan yang sempurna. Hmmmm....... lagi2 harus lebih pandai bersyukur.

Tirai cahaya dari gua vertikal
Tidak terasa, ternyata petualangan hampir berakhir. Di depan telah nampak penghujung gua. Di penghujung gua ini, terdapat semacam kolam yang di atasnya nampak gua vertikal. Dari sini kita dapat melihat sinar matahari menembus kegelapan gua. Tidak kalah indah. Inilah yang disebut orang2 dengan cahaya surga. Namun rasanya masih ada yang kurang. Apa ya kira2???. Apalagi kalau bukan berenang dan berpuas-puas main air hehehe. Selamat mengunjungi gua pindul ^_^........

0 comments:

Posting Komentar