Sabtu, 16 Februari 2013

Menggapai Merbabu Via Jalur Wekas Part #2 (end)

Leave a Comment
Day 2 in the wilderness 

Great view
Keberangkatan menuju puncak yang semula direncanakan jam 3 jadi molor sampai jam 4 karena kami semua masih kecapekan. Pukul 4 lebih, barulah kami beranjak dari tenda melanjutkan perjalanan bersama rombongan pendaki lain. Karena itulah harapan melihat sun rise di puncak pupus sudah. Tapi gak papa deh, yang penting tetep diusahain bisa muncak. Rute perjalanan dari pos 2 menuju puncak terus menanjak dengan medan jalan setapak yang berbatu-batu. Sesekali kami harus antre karena jalan hanya bisa dilalui satu pendaki. Pada awalnya jalanan masih tertutup gelapnya malam, sehingga butuh bantuan senter.

Mentari menyibak tirai pemandangan




Semakin naik, setelah subuh, perlahan gelap digantikan terangnya cahaya mentari. Dan terbelalaklah penglihatan mata saya. Rupanya mentari tak hanya mengusir kegalapan namun juga menyibak pemandangan di sisi kanan dan kiri jalur pendakian yang sebelumnya tak terlihat. Subhanallah, sungguh manusia yang kecil ini hanya bisa berdecak kagum ketika menyaksikan eloknya pemandangan karya maestro sang Pencipta. Di kejauhan nampak gunung-gunung lain yang seolah menyembul dari balik awan, entah mungkin sindoro atau sumbing. Jalur punggungan merbabu dan para pendaki yang melewatinya, dari jauh nampak seperti semut sedang berbaris. Apalagi keindahan lembah sabana yang mirip hamparan karpet super luas. Inilah yang selalu membuat saya kangen naik gunung. Gak tiap hari cuy disuguhi kayak gini :D...

padang berumput
Watu Tulis - Helipad – Puncak Kenteng Songo

The journey must go on, setelah cukup lama berjalan akhirnya kami sampai di pos helipad. Penamaan ini mungkin berkaitan sama fungsinya sebagai tempat pendaratan heli (tapi mana ada ya heli mendarat sampai sini haha). Sayangnya rombongan terbelah jadi dua. Bung TS, saya, dan Ardian berada di depan sementara Bang Zack dengan setia menemani Bung Hasto yang kelelahan di belakang. Oh ya, sebelumnya kami sempat melewati Watu Tulis, sebuah persimpangan terbuka yang mempertemukan jalur2 pendakian lainnya. Saya sarankan jangan berhenti lama2 di watu tulis soalnya tempat ini tidak memberi perlindungan dari angin gunung yang super dingin.


Terus naik, ternyata perjuangan belum usai. Puncaknya kayak nggak sampai2 nih, pikir saya. Di tengah jalan ada papan yang memberi info kalau puncak ternyata masih 2000 m lagi!!!. Ini papan niatnya ngasih info tapi malah bikin down. Terus terang konflik batin mulai saya rasakan di titik ini, apakah mau lanjut terus sampai puncak atau cukup berpuas diri di sini saja.


Di saat seperti inilah di mana kondisi badan udah nggak fit, kemampuan berpikir rasional juga hampir nol, oksigen semakin menipis, niat pendaki untuk sampai puncak benar2 diuji. Untunglah ada teman2 yang selalu mendukung dan menyemangati. Apalagi beberapa kali saya melihat para pendaki cewek yang berlalu di depan kami. Masak kalah!!! Makenai, makenai, makenai, semacam kata2 semangat yang selalu saya ulang2, yang kurang lebih berarti “I can’t lose” sebagai sugesti terakhir.

rintangan terakhir sebelum puncak
Jembatan setan adalah obyek selanjutnya yang kami lewati. Ternyata medannya nggak seserem namanya meskipun di sisi kiri dan kanannya diapit jurang. Menjelang puncak, masih ada tebing yang disebut geger sapi (punggung sapi) yang harus kami lalui. Inilah rintangan terakhir yang memisahkan kami dan puncak #halah. Di sini kami terpaksa merayap di sisi tebing ibarat sapiderman, lumayan serem malah daripada jembatan setannya.

merapi dari puncak
Finally kami sampai juga di Puncak Kentheng Songo (3142 mdpl) sekitar pukul 09.00 pagi. Hal pertama yang saya lakukan adalah sujud syukur mencium tanah merbabu. Karena mustahil tanpa kekuatan dari-Nya saya bisa sampai. Pemandangan dari puncak tak kalah menakjubkan. Dengan jelas kita dapat melihat jajaran gunung2 lainnya. Gunung merapi, kembarannya merbabu, dengan asap putih yang selalu menyembur dari kawahnya. Pemandangan lereng dan landscape kota-kota di kaki gunung ini juga terlihat.

Thanks to Bang Zack, TS, Ardian, dan Hasto for the unforgettable journey. Sebenarnya justru kisah yang paling epic itu perjuangannya Bang Hasto untuk mencapai puncak. Dengan berat badan lebih dari 1 kw dan first time pengalaman naik gunung, tentunya bukan hal yang mudah baginya. Namun dengan support tiada henti dari bang Zack, bung Hasto pun akhirnya mencapai puncak sekitar lewat tengah hari, beberapa jam berselang setelah kami. Cuman karena kepanjangan ceritanya, jadi liat video karya bang TS aja ya...^_^. Nih linknya, dijamin mantab http://www.youtube.com/watch?v=HEtxanHzFKE

Next time, hope can visit you again Merbabu...

0 comments:

Posting Komentar