Senin, 13 Mei 2013

5 Permainan Tradisional yang Nyaris Punah

2 comments
Tanpa disadari ternyata tumbuh dan berkembang sebagai anak generasi 90-an adalah suatu karunia yang luar biasa. Betapa tidak, di waktu itu ada banyak hal yang rasanya membuat pengalaman saya sebagai anak kecil benar-benar lengkap dan hidup. Mulai dari tayangan TV yang masih berpihak pada anak-anak. Sebut saja dulu kita sangat dimanjakan dengan adanya kartun-kartun di hari minggu. Lagu anak-anak yang memang isinya untuk anak2. Bukan lagu berbau alay yang isinya cinta2an seperti sekarang meski yang nyayi ngakunya masih anak2. Trus ruang terbuka yang memberi kesempatan kita buat jadi bolang. Dan lagi kesibukan sekolah yang belum menyita waktu seperti kesibukan anak sekarang.

Ah, membandingkan memang tak kan ada habisnya... Satu hal lagi yang paling membuat pengalaman sebagai anak2 terasa lengkap adalah eksistensi permainan tradisional yang dulu begitu sering kami mainkan. Kira2 masih pada ingat nggak ya dulu sering main apa???. Iseng2 ngelist dulu permainan tradisional yang pernah populer di era 90-an. 

1. Betengan

indonesiantraditionalgames.wordpress.com
Di halaman SD saya dulu terdapat dua tiang, yaitu tiang bendera buat upacara hari senin dan satu lagi sepasang tiang tempat memasang net tenis. Karena kekreatifan bocah SD jaman dulu, tiang itu disulap jadi wahana permainan tradisional yang diberi nama betengan. Permainan ini menggunakan logika perang2-an yaitu antara bertahan dan menyerang. Cara mainnya, pertama dibentuk dua tim yang terdiri dari beberapa anak dengan jumlah sama. Trus kedua tim ini akan saling berlomba untuk menyentuh benteng lawan (tiang). Di akhir permainan akan dihitung tim mana yang paling banyak berhasil menyentuh benteng lawannya. Itu bahasa simpelnya, kalo mau dijabarin sih bisa panjang banget haha. Waktu favorit main betengan adalah di sela jam istirahat pertama karena cuaca belum terlalu panas.

Pros : seru, melatih fisik (lari2an), keakraban 
Cons : Baju seragam jadi lecek, banjir keringat, nggak fokus ikut pelajaran 

2. Paksepong РSepak S̻pong (Main Bola Umpet)


Paksepong sejatinya adalah permainan tradisional hasil fusion (penggabungan) antara petak umpet dan main bola. Loh kok bisa???. Jadi begini nih cara mainnya, pertama carilah tanah lapang atau halaman yang agak luas. Lalu kumpulkan anak2 dan teman2 sebaya untuk diajak main. Selanjutnya tentukan siapa yang jadi (tersangka) dan yang sembunyi. Biasanya proses ini pake mekanisme hompimpa atau cang kacang panjang (pasti tahu kan :P). Setelah itu gambarlah lingkaran besar dan letakkan bola sepak di tengah2nya. Nah, bola ini akan ditendang oleh salah seorang anak yang ditunjuk. Nendangnya harus sejauh-jauhnya lho karena waktu jeda ketika pelaku mengambil bola dan meletakkannya lagi ke lingkaran adalah kesempatan bagi anak2 lainnya untuk bersembunyi.

Lah habis ini nih waktu yang paling seru. Si pelaku wajib mencari satu per satu anak lainnya sampai semuanya tertangkap. Eits tapi nggak cuman itu lho, dia juga harus menjaga bola tadi supaya tidak ditendang oleh anak2 yang sembunyi. Jika sampai bola itu berhasil ditendang maka anak yang sudah tertangkap berhak untuk sembunyi lagi alias bebas. Lumayan kompleks yah kalau ditulis hahaha. Biar nggak kasihan, biasanya ada tiga kali kesempatan bagi si pelaku. Jika sampai tiga kali bola berhasil ditendang terus, maka yang ke-empat ia berhak membawa bolanya, dan orang pertama yang ia tangkap akan langsung jadi pelaku selanjutnya.

Permainan ini adalah salah satu permainan favorit anak2 di kampung saya, kami bisa begitu betah berjam-jam memainkannya, apalagi kalau sedang libur sekolah. Bahkan jangkauan sembunyinya bisa sangat luas hampir meliputi seluruh kampung. Seru abis pokoknya. 

3. Bancaan


Bancaan, bancaan, bancaan cahhh!!!. Itulah panggilan untuk men-summon anak2 supaya berkumpul. Tapi bancaan di sini bukan bagi2 makanan lho, jangan salah ya hehe. Saya pun kurang begitu paham darimana asal penamaannya. Hampir mirip dengan paksepong sih. Tapi kalo Bancaan ini seperti fusion antara petak umpet dan adu ketangkasan. Media permainannya sangat sederhana yaitu pecahan genteng (kereweng) yang disusun-susun mirip menara dan batu besar sekepalan tangan. Trus gimana cara mainnya???.

Setelah kereweng disusun, maka setiap anak akan mendapat kesempatan untuk merobohkan susunan itu dengan lemparan batu dari jarak tertentu. Bagi anak yang ketiban apes alias si penjaga harus selalu siap karena jika susunan kereweng berhasil dikenai maka ia harus segera menyusunnya kembali seperti semula. Lha di saat inilah anak2 lainnya punya kesempatan untuk bersembunyi. Mekanisme selanjutnya mirip dengan paksepong. Si penjaga harus pintar2 putar otak antara mencari anak yang bersembunyi dan menjaga agar menara kerewengnya tetap utuh. Karena kalau menaranya berhasil dirobohkan lagi maka tahanan yang ia tangkap berhak bersembunyi kembali. 

4. Kelereng (gundu) 


Siapa yang nggak kenal kelereng (neker : basa jawa). Mainan kecil berbentuk bundar dengan hiasan menarik ini adalah kesukaan anak kecil jaman saya dulu. Ada berbagai variasi bermain kelereng. Yang paling simpel adaah adu ketangkasan di mana kita saling berusaha membidik kelereng lawan. Kalau kena maka kelereng lawan akan menjadi milik kita.


Garitan di tanah, skema cara bermain 'Jarak'
Kurang seru?. Ada lagi tipe permaian yang berisiko tinggi, karena kelereng yang dipertaruhkan jumlahnya lumayan. Di kampung saya dikenal dengan sebutan ‘Jarak’. Beberapa kelereng ditempatkan dalam garitan tanah yang sengaja digambar mirip dengan pohon yang mempunyai beberapa ranting. Di setiap ujung ‘ranting’ tadi diberi kelereng. Nah hadiah paling gede itu letaknya di garitan paling ujung atau kepala pohonnya. Sebab jika berhasil mengenai kelereng ini, kelereng2 di bawahnya bisa dibawa pulang. Nggak jarang permainan ini melahirkan JKB atau Jutawan Kelereng Baru wkwkwk karena keberuntungannya. 

Permainan kelereng sempat meredup dan hampir mati di kampung saya gara2 ada salah seorang guru ngaji tpa menganggapnya mirip judi (ada unsur taruhannya). Mungkin pak guru sebel juga ya anak2 pada males berangkat tpa gara2 keasyikan maen kelereng hehe.

5. Petak umpet


Petak umpet ; delikan (jawa u/ daerah solo) ; jepongan (jawa u/ daerah jogja) ; hide and seek. Rasanya tidak akan afdol menjadi anak-anak jika belum pernah merasakan asyiknya permainan tradisional ini. Petak umpet juga merupakan permainan tradisional universal di dunia karena banyak negara mengenalnya meski dengan modifikasinya masing2. Dan syukurlah permainan ini masih relatif lestari belum masuk kategori punah seperti teman2nya yang lain :(. Jaman saya dulu, waktu terbaik main petak umpet adalah ketika sedang terang bulan dan waktu malam ketika menjelang hari libur. Semakin sering bermain, akan semakin melatih insting kita untuk mencari tempat persembunyian teraman :D. Saking amannya kadang jadi nggak sadar kalau pada bubar main petak umpetnya XD.

Sayangnya sudah tidak banyak anak2 jaman sekarang yang akrab dengan permainan tradisional semacam ini. Padahal banyak sekali lho manfaatnya. Selain melatih aspek psikomotorik, juga melatih si anak untuk pandai bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Satu lagi, permainan semacam ini mengandung nilai egalitarianisme. Opo kui, maksudnya kesetaraan. 

Seingat saya, dulu tidak ada yang namanya pembedaan atau pengistimewaan bagi anak2 yang bermain. Entah ia berasal dari latar belakang orang kaya atau orang biasa, semua diperlakukan sama. Kalau sudah ikut main ya siap2 nanggung risikonya, baju jadi kucel, keringetan, jadi item, dan bahkan risiko cedera. Meminjam istilahnya Mbah Karl Max, mungkin sangat pas jika permainan tradisional ini mendapat predikat “permainan tanpa kelas” XD.

2 komentar:

  1. Gw SMP kelas 7 sama 8 sering main petak umpet.. Kampret, malu-maluin sama kelas lain.. :)) tapi seru rame", setengah kelas kali ye.. Kelas sebelah bengong liatnya,, sekarang gw dah sma..

    BalasHapus
  2. Kalau jaman sma udah jarang ya main ginian haha
    Kadang kangen pengen balik ke masa kecil lagi

    BalasHapus