Jumat, 31 Mei 2013

7 Sensasi Unik Mendaki Gunung

1 comment
Kali ini pingin ngebahas sensasi-sensasi unik yang sering saya alami ketika naik gunung. Pada dasarnya kita melakukan suatu hobi kan didasari oleh alasan2 tertentu. Sensasi2 inilah yang membuat kegiatan naik gunung itu selalu ngangenin dan bikin pengin melakukannya lagi. Padahal tiap habis naik gunung itu sudah jadi keniscayaan badan rasanya remuk redam, otot pegal2, persendian lutut apalagi aduhhh, jalannya jadi kayak robot. Dan ‘penderitaan’ ini bisa berlangsung selama beberapa hari. Tapi ya itulah namanya juga kapok lombok (pepatah jawa), setelah pedesnya ilang ya kepingin nyoba lagi hehehe. Berikut 7 sensasi unik naik gunung yang saya rangkum, enjoy^^...

#1 Sensasi Negeri di Atas Awan

Nggak perlu capek-capek manjat menaranya dewa emperor kayak son goku hehe, kita pun dapat menyaksikan pemandangan indah “negeri di atas awan” lewat kegiatan naik gunung^_^. Bahkan nggak harus sampai puncaknya lho buat menikmati pemandangan ajib ini. Pada ketinggian tertentu jika cuaca dan angin mendukung, kita sudah bisa melihatnya. Jangan tanya sensasinya, Sungguh luar biasa!!!.

Negeri di atas awan dan keindahan sunsetnya
Gumpalan awan bergulung–gulung mirip karpet kapas putih yang sangatttt luas tersaji di depan mata, seolah-olah bisa kita raih dengan mudah. Setiap melihat pemandangan indah ini, serasa damai, imajinasi saya pun melayang rasanya bisa berjalan-jalan di atasnya atau mencuil sedikit awan itu buat dimakan (emang arum manis wkwk). Jadi inget salah satu episode anime doraemon pas nobita dkk bikin istana di atas awan.

Mengutip juga bait lagunya mas Katon :
Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Di mana kedamaian menjadi istananya

#2 Sensasi Jauh dari Peradaban

Sadarkah kita, kalau sebenarnya kita sangat dimanjakan dengan gaya kehidupan perkotaan yang serba komplit dan instan, mulai dari listrik, TV, koneksi internet, sampai hal-hal kecil seperti urusan gadged (handphone, mp3 player, Ipod, Iphone, BB, dll). Bagaimana kalau tiba-tiba segala kenyamanan itu hilang???. Kira2 pada betah nggak ya?. Sekali-sekali rasanya memang perlu deh memutus segala bentuk kenyamanan tersebut. Gimana caranya?, ya salah satunya lewat naik gunung hehe. Di gunung kita akan belajar melepaskan diri dari ketergantungan duniawi tersebut #halah. Kalau dipikir-pikir sebenarnya kita tidak selalu benar2 membutuhkannya. Kasarannya nggak ada itu pun kita masih tetap hidup kan.

nice pict from sarangpenyamun.files.wordpress.com
Ketika malam, dari gunung saya bisa melihat kota2 di lereng dengan lampu yang gemerlapan, seolah2 ingin menyaingi cahaya bintang. Saat itulah, tiba2 saya begitu merasakan betapa bersyukurnya bisa hidup nyaman di kota dengan segala kelengkapan fasilitas dan sarana yang mudah dijangkau. Rasanya jadi tambah bersyukur. Bayangkan dengan keadaan saudara2 kita yang hidup di pedalaman dengan segala keterbatasannya. Truly, a primitive runway :P.

#3 Sensasi Tahu Kepribadian Orang Yang Sebenarnya

Terkadang kita merasa begitu mengenal seseorang yang selama ini menjadi teman atau sahabat dekat kita. Sekali-kali ajaklah dia untuk melakukan perjalanan yang durasinya lebih dari satu hari, maka pastilah kita akan lebih dapat mengenal kepribadiannya. Ya, ini saya alami sendiri ketika sering melakukan kegiatan pendakian dan backpacker bareng teman-teman.

Kepribadian orang yang nampak kepada kita dalam kehidupan sehari-hari dapat berubah drastis ketika ia dihadapkan pada kondisi-kondisi kritis selama perjalanan. So, jangan kaget tapi bisa jadi itulah cerminan watak dasar dari orang tersebut. Pernah mendapat cerita dari seorang teman, ia memiliki kawan yang selama ini dianggapnya sangat care dan friendly. Namun kawannya tersebut berubah menjadi bersikap acuh ketika melakukan pendakian bersama. Bahkan ia menyarankan agar teman yang lemah kondisi fisiknya lebih baik ditinggal saja daripada menghambat perjalanan. Ada juga tipe orang yang suka mengeluh, hanya mementingkan tujuannya sendiri (yang penting saya bisa sampai puncak), ada yang pelit. Semua itu dapat dijumpai selama pendakian. Pada saat kondisi tubuh benar2 lelah, tenaga terkuras, logika dan akal pun menjadi tidak dapat bekerja secara sempurna sehingga emosilah yang lebih dominan.

Namun sering pula saya temui teman-teman yang justru sifat baiknya semakin terpancar selama pendakian. Ia begitu ringan tangan membantu dan men-support teman2 lain yang lebih lemah darinya. Menguatkan semangat tim dan pantang menyerah.

Persis deh kayak di film Vertical Limit hehe.

#4 Sensasi Olah Batin dan Merasa Kecil di Mata Tuhan

Siapakah gerangan Pencipta semua ini???
Kegiatan naik gunung tidak hanya menjadi sarana olah fisik namun yang tak kalah penting adalah olah jiwa (batin). Maksudnya??. Sebagai manusia ada kalanya kita pernah merasa jumawa (halah :D) dilalaikan oleh kelebihan2 dan segudang prestasi yang dimiliki. Kita jadi merasa besar dan penting.

Mengutip status fb salah seorang teman tentang pengalamannya :

“Kemudian ada saat badan begitu letih merasa tak kuat lagi, di saat seperti itu kita akan merasa kecil dibandingkan ciptaan-Nya yang lain, merasa tak berdaya apa-apa, merasa bahwa hanya Allah-lah yang mampu menolong kita, kesombongan habis tak bersisa. Kemudian juga toleransi dan kekompakan team, menyayangi alam, dan melatih fisik”.

#5 Sensasi Sun Rise dan Sun Set

Fase-fase sunrise
Salah satu hal yang paling dicari dari kegiatan naik gunung adalah memburu sun rise dan sun set. Loh ngapain jauh-jauh ke gunung, ke pantai aja bisa kan. Beda banget bro sensasinya. Di atas ketinggian, pemandangan sun rise dan sun set terasa lebih indah dan istimewa. Pasalnya, kita berada di suatu tempat di mana tidak ada lagi penghalang yang membatasi pandangan mata kita dari melihatnya.

Sunset at Lawu, Juli 2008
Selain itu, fase-fase terbit dan tenggelamnya matahari akan begitu nampak dengan jelas. Diawali dengan cahaya semburat kemerahan dari ufuk timur yang mulai menerangi kegelapan. Cahaya itu perlahan berubah menjadi benang tipis memerah yang selanjutnya semakin menampakkan bentuknya. Dari yang seperempat, setengah lingkaran, sampai penuh menjadi matahari utuh yang naik perlahan di langit (ngebayangin kayak telor ceplok haha). Pemandangan yang sungguh memanjakan mata dan sebagai asupan batin (rohani) yang menunjukkan bukti kebesaran Sang Pencipta. Apalagi setelah melewati perjuangan cukup melelahkan untuk sampai ke puncak. Seperti kado yang sangat istimewa.

#6 Sensasi Menaklukkan Puncak

Hampir setiap pendaki pasti mencita-citakan dapat menginjakkan kakinya di atas titik tertinggi sebuah gunung alias puncak. Rasanya kayak kurang afdhol kalau naik gunung kok nggak sampai puncaknya. Memang benar, menaklukkan puncak bisa jadi obsesi terbesar seorang pendaki yang bikin ketagihan. Bahkan nggak jarang ada yang terlalu memaksakan diri untuk sampai puncak sampai2 mengabaikan batas kemampuan fisiknya.

Namun angan2 sampai puncak juga lah yang menjadi bahan bakar motivasi dan penyemangat untuk terus melangkahkan kaki meski letih tiada terkira. Setidaknya itulah yang pernah saya rasakan ketika pertama kali mendaki gunung Lawu dan pendakian2 berikutnya. Rasa penasaran, obsesi, yang bercampur dengan tekad mampu mengalahkan kondisi fisik yang pas-pasan. Dan benar saja, ketika sampai puncak ada rasa kepuasan batin tersendiri. Perjuangan melelahkan untuk mencapainya serasa terbayar sudah. Apalagi ketika dapat menikmati pemandangan sekitar puncak yang ajiiiib bener.
Hmmmm, cucuk lah (impas).

Eiiitttss, tapi ada satu lagi yang juga tidak terlupakan. Sensasi sampai base camp itu loh. Seperti perasaan lega yang teramat sangattt. Alhamdulillah, akhirnya kembali ke peradaban, batin saya tiap nyampe base camp lagi :D. Kadang seperti nggak percaya sama diri sendiri, kok bisa ya mendaki gunung itu hingga sampai puncaknya dan kembali lagi.

#7 Sensasi Persaudaraan (Fellowship from the Mountain)

Teman saya pernah bilang kalo orang yang pernah naik gunung bareng itu akan mempunyai ikatan emosional satu sama lain. Apalagi yang tidak hanya sekali melakukan pendakian bersama. Sebab di gunung siapa lagi orang yang bisa kita andalkan dan mintai bantuan selain teman seperjalanan. Perasaan saling menjaga dan saling membantu inilah yang kemudian membentuk ikatan emosional tersebut.

Satu lagi yang unik, di gunung hampir semua pendaki akan cenderung bersikap baik, ramah, dan helpfull dengan pendaki lain meskipun mereka tidak saling kenal. Bertemu dengan rombongan pendaki lain kita akan saling sapa, terlibat obrolan, saling berbagi info seperti orang yang sudah kenal. Nggak cuman itu, norma di gunung ini juga menganjurkan pendaki untuk saling berbagi (bekal/makanan/air) dan membantu lainnya yang kekurangan. Pokoknya di sini seperti tidak ada rasa canggung. Kalau mau nginep di tenda orang pun tinggal minta izin sama empunya, boleh atau nggak. Inilah yang disebut sensasi fellowship of the mountain.

1 komentar: