Sabtu, 07 Desember 2013

Jangan Jadi Pendaki Sampah

Leave a Comment
Kalau kamu tersesat di gunung-gunung Indonesia, gampang solusinya. Ikutilah jejak-jejak sampah, karena ia menuntun ke peradaban (pendaki bule anonim, Gn. Rinjani) 
travelistasia.com
Ungkapan yang ditulis oleh wisatawan asing ini sepintas memang terkesan vulgar dan blak2an. Namun kita juga tak bisa mengelak, kondisi inilah yang kini terus terjadi di sebagian gunung Indonesia, khususnya yang selalu ramai di setiap momen2 pendakian.  

Belakangan ini keprihatinan ini semakin saya rasakan, terlebih dengan adanya pemberitaan tentang menumpuknya sampah sisa pendaki di gunung. Betapa tidak, kalau kita lihat gunungan sampah di kota mungkin sudah biasa. Tapi ini di gunung yang notabene adalah alam terbuka yang jauh dari peradaban manusia, kok bisa dikotori sampah. Lantas siapa pelakunya, inilah yang membuat tambah ironis. Pelaku nyampah di gunung konon adalah orang-orang yang bangga menyebut dirinya sebagai pecinta alam!!!. Pecinta alam kok mengotori alam?. Sungguh ironis. Ya saya tidak bermaksud menyamaratakan bahwa semua pecinta alam atau pendaki gunung melakukan hal seperti itu. Karena pendaki memang tidak semuanya pecinta alam. Dan masih banyak pecinta alam atau pendaki sejati yang bertanggungjawab.

Membuang sampah atau meninggalkan sampah di gunung adalah tindakan yang kurang bijaksana. Sebab gunung bukanlah rumah kita. Sebagai tamu yang berkunjung ke suatu tempat, sangat tidak pantas kan kita bertingkah seenaknya termasuk membuang sampah di sembarang tempat. Gunung adalah rumah dan habitat para satwa, kita sebagai pendaki hanyalah tamu di sana. Apa jadinya jika ada orang yang bertamu ke rumah kita namun orang itu berlaku tidak sopan dan membuang sampah-sampahnya di ruang tamu kita. Tentulah kita akan sangat marah. 

Jujur saya iri dengan sikap para pendaki bule yang justru benar2 menerapkan prinsip pecinta alam ketika mendaki gunung atau melakukan kegiatan outdoor di Indonesia. Pernah saya berkunjung ke suatu blog milik orang bule yang hobi menjelajahi alam. Di blognya ia menjelaskan etika2 ketika mengunjungi alam mulai dari membawa kantong sampah sendiri, tidak memberi makan satwa, tidak mengubah susunan batu di alam, tidak memotong dahan atau ranting, bahkan ketika makan snack ia sampai menyarankan agar remah2nya jangan sampai jatuh berserakan.

Mungkin kita sering mendengar ungkapan pendaki bijak, jangan tinggalkan apapun kecuali jejak langkah, jangan ambil apapun selain foto, dan jangan membunuh apapun kecuali waktu. Dalam dunia outdoor, prinsip-prinsip ini sering dikenal dengan istilah Leave No Trace
Semua itu dilakukan untuk meminimalisir dampak yang kita berikan ke alam ketika melakukan kegiatan outdoor, karena bagaimanapun kita ini adalah orang asing (invader) di alam. Setiap hal yang kita lakukan memberi dampak kepada alam atau gunung yang kita kunjungi. Seperti halnya membuang sampah. Mungkin sebuah bungkus mie yang dibuang seorang pendaki hanya berdampak kecil. Atau mungkin kelakuan sebagian pendaki yang memetik bunga edelweis untuk dibawa pulang sebagai oleh2. Bayangkan jika ini berlangsung terus menerus dan jumlah pendaki yang datang ke gunung kadang bisa mencapai ratusan di akhir pekan, tentu dampkanya akan sangat besar.

Yang bisa kita lakukan adalah berawal dari diri sendiri. Tanamkan prinsip utama dalam setiap pendakian bahwa kita tidak meninggalkan apapun selain jejak langkah. Ingatkan pada diri kita sendiri dan teman2 untuk selalu membawa pulang sampah yang kita hasilkan, baik itu sampah organik maupun non organik. Membakar sampah di gunung juga bukan solusi kawan, karena tetap menimbulkan polusi. Biarkan gunung kita bersih dan lestari, inilah bentuk tanggungjawab kita sebagai pendaki sejati bukan pendaki abal2 apalagi pendaki sampah!!!.

0 comments:

Posting Komentar