Kamis, 16 Januari 2014

Lima Fakta menarik jalur pendakian lawu via candi cetho. Yang hobi nanjak wajib baca!!

19 comments
Gunung Lawu yang terletak di antara perbatasan dua provinsi, Jawa Tengah dan Jawa Timur, mempunyai banyak jalur pendakian.Yang paling mainstream mungkin udah pada tahu, yakni jalur Cemoro Sewu di Kabupaten Magetan, Jatim dan Jalur Cemoro Kandang di Kabupaten Karanganyar, Jateng. Namun mungkin belum banyak yang begitu familiar jika Lawu ternayata juga bisa didaki dari obyek wisata eksotis, Candi Cetho yang berdekatan dengan hijaunya hamparan kebun teh kemuning. Jalur pendakian ini lain dari yang lain karena akan mengajak kita menyusuri keindahan “surga” tersembunyi lawu yang masih menjadi misteri bagi kebanyakan pendaki. Berikut saya sajikan 5 fakta menarik dari jalur pendakian tersebut.


1). Jalur terpanjang menuju puncak Hargo Dumilah


Jika dibandingkan dengan kedua jalur pendakian lain, yaitu cemoro sewu dan cemoro kandang, jalur candi cetho akan mencatatkan rekor sebagai jalur terpanjang. Sebab menurut situs Gunung Bagging, jika dihitung jalur ini panjangnya mencapai 16 km!!. Bandingkan dengan cemoro sewu yang hanya 8 km dan cemoro kandang yang berkisar 12 km. Ini dikarenakan jalur cetho alurnya seperti memutari punggungan lawu dari arah utara terus menuju hingga sampai ke puncak. Konsekuensinya tentu saja waktu tempuh menuju puncak lebih lama dari jalur2 lainnya yang dapat mencapai 8-10 jam perjalanan. 

2). Jalur terberat


Hahaha, ini sengaja saya ungkapkan bukannya mau menakut-nakuti atau mematahkan semangat sebelum mencoba jalur ini. Namun, sangat penting bagi kita, para petualang cinta (ceileeeh :D) untuk memperoleh gambaran sedetail mungkin tentang perjalanan yang akan kita tempuh. Informasi ini akan sangat bermanfaat karena kita dapat mempersiapkan segalanya dengan lebih baik, lengkap beserta dengan risiko2nya. Memang dibanding jalur pendakian lawu lain, jalur candi cetho adalah yang paling menantang kemampuan fisik dan semangat para pendaki. Pasalnya jalur ini bisa dibilang jarang sekali memberi diskon atau bonus. Maksudnya adalah kita akan lebih sering disuguhi tanjakan2 tanpa ampun dibanding dengan jalur datar atau menurun. Hal ini dapat anda rasakan sendiri sedari pos 1 hingga pos 3. Apalagi jalur pos 3 menuju pos 4, nanjaknya brow... ajib bener. Namun setelah jalur ini akan banyak kejutan yang dapat segera menghapus rasa lelah pendaki. 

Tantangan lain yang juga tak dapat dainggap remeh adalah faktor cuaca dan suhu. Beberapa teman pendaki sempat curhat mengenai suhu gunung Lawu. Katanya suhu gunung ini merupakan salah satu yang terdingin dibanding gunung2 lain di jawa tengah. Belum lagi jika ditambah dengan faktor cuaca yang sulit diprediksi. Di tahun 2012, saya sampai pos terakhir lawu dengan kondisi cuaca cerah. Namun hanya 2 jam berselang, cuaca berubah drastis, kami serombongan dihadiahi hujan deras bak air tumpah dari langit lengkap dengan dinginnya angin yang bertiup. Untung masih diberi keselamatan, hehe. 

3). Jalur paling alami


Pernahkah mendaki dan kemudian kita agak kecewa karena jalur pendakian banyak dirusak oleh tangan2 jahil manusia. Para perusak alam yanga anehnya justru mengaku pecinta alam tapi kelakuannya mencoret2 batu seenaknya, menoreh kayu pepohonan, memetik edelweis, atau meninggalkan sampah2 bekas makanan yang berserakan. Gunung sebagai tempat yang jauh dari peradaban ternyata tak luput dari ulah tak bertangungjawab manusia.

Untungnya hal-hal negatif ini tidak menular ke jalur lawu via candi cetho. Jangan sampai deh. Dari pengamatan saya, jalur ini dapat dikatakan jalur yang paling alami. Mungkin karena relatif jarang dilalui para pendaki Lawu. Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita juga agar ketika melewati jalur ini kita turut menjaganya yaitu dengan menjadi pendaki yang beradab dan beretika. 

4) Jalur yang paling komplet pemandangannya


Semenjak dari basecamp kita telah disambut oleh bangunan bersejarah candi cetho yang terkesan mistis namun eksotis. Sebelum naik, sempatkanlah mampir sejenak ke candinya. Menanjak sedikit kita akan bertemu dengan peninggalan lain, yaitu candi recho ketek. Terus naik mulailah kita merasakan atmosfir hutan yang rimbun nan asri. Dilanjutkan dengan hutan cemara dan pinus, namun sayang beberapa bagiannya tak utuh lagi karena terbakar. Tidak cukup sampai di situ, jauh di depan masih menunggu panorama-panorama lain, padang sabana, lembah putus cinta, sabana lagi, telaga menjangan, pasar setan (hiii sereeem), barulah ditutup dengan puncak hargo dumilah. 

5) Jalur yang paling berkesan


Poin ini sebenarnya bisa sangat subyektif dan tendensius haha. Namun harus saya akui, memang pendakian lawu via candi cetho banyak meninggalkan kesan mendalam bagi diri saya. Satu hal yang membuat saya kagum adalah panoramanya yang begitu lengkap dan seakan sempurna. Khususnya ketika kita berada di padang sabananya yang hijau terhampar luas beratapkan langit membiru. Ah rasanya seperti berada di negeri antah berantah, kata salah seorang teman saya. Ditambah lagi dengan kesunyian yang akan menjadi atmosfer ketika menyusuri jalur ini.

Mbok Yem dan pendaki. Semoga tansah sehat dan panjang umur nggih Mbok :)
By the way, belum lengkap ke Lawu kalo belum ngicipin nasi pecel koretan ala Mbok Yem, yang meski agak ketus tapi selalu dirindukan oleh para pendaki Lawu. Pokoknya sampe sekarang kamu masih yang paling berkesan, lawu candi cetho...

Nggak tahu deh nanti kalau dapet kesempatan mendaki kilimanjaro, aconcagua, atau elbrus hehehe 
First thing first, hal penting yang harus dipersiapkan Kondisi fisik yang prima, peralatan pendakian yang lengkap, ijin orang tua, etika dan kesopanan sebagai tamu di alam, dan administrasi pendakian.



Hi, my name is Erry Satya. From Monday to Friday, I’m just ordinary salary worker at a private university in Yogyakarta. But during weekend and public holiday, I am a mountaineering guide specialized in climbing Mount Lawu and several other volcanoes in Central Java, such as Merbabu, Merapi, Sumbing and Sindoro. I can help you arrange a trip to these destinations. I am glad that foreign people also have interest and enthusiast to explore our beautiful nature. If you need any information about mountaineering activity in Central Java, don’t hesitate to ask me via e-mail or whatsapp.

You can contact me at inspiring.aya@gmail.com
or via whatsapp +6281578422248

19 komentar:

  1. Berbagi pengalamanku mas bro..naik candi cetho berdua di malem jum at..eh siangnya ketemu orang nyasar di atas pos 5 Sabana..ternyata temen2 dr UPL UNSOED Purwokerto yg harusnya lwat cemoro kandhang pas turun tp sudut tembakannya melenceng..beberapa derajat ke arah utara..So jadilah mereka bertemu kami..di jalur menuju Tlaga Menjangan..

    BalasHapus
  2. Wah jauh banget melencengnya gan, emang bikin bingung kalo blm apal. Itu jalur selalu bikin kangen balik meski medannya susah banget

    BalasHapus
  3. kemarin 2 mei 2014 naik Lawu via Candi Cetho gan, memang seperti yang agan tulis terberat dan terpanjang 12 jam ane mendaki. dan jalurnya banyak yg tertutup semak2 karena jarang di lewati, tp disuguhi pemandangan yang sangat indah dibandingkan lewat jalur Cemoro.

    BalasHapus
  4. Makasih gan udah sharing ceritanya. Nggak sia-sia ya gan, semua kelelahan terbayar sudah kalau nyampe sabananya. Wajah lawu yang beda dari jalur lain

    BalasHapus
  5. Sharingnya asyik gan. Saya belum pernah menjajal jalur ini gan. Gara2 baca tulisan ini, jadi pengen nyoba. Dulu sewaktu masih sma dan kuliah, rajin banget ke Lawu, kalau ga salah sampai 19 x. Di usia saya yang ke 50 ini, sy pengen mencicipi jalur Cetho bareng anak2 saya yang juga mulai keranjingan naik gunung. Semoga anak2 saya minat juga dan bisa liburan bareng menyusuri jalur ini. Ntar kalau sempat, akan saya tulis juga di blog saya www.jiwasehat,blogspot.com... Ini gara2 agan lho.... Thx bro.....Tetap semangat berbagi dan salam hangat....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ketemu sama senior, master pendaki lawu di blog nih. Salam rimba Pak. Subhanallah 19x itu nggak gampang lho Pak. Insyaallah saya juga pengen ngikutin jejak njenengan Pak. Sampai sekarang udah ngoleksi 11x naik Lawu.
      Monggo dicoba Pak via candi cetho, bisa jadi kenangan terindah. Apalagi bareng sama anak-anak. Sungguh pengen seperti Bapak, bisa ngajarin anak2nya cinta pada alam

      Hapus
  6. saya 2 kali kak ke lawu lewat cetho. yang pertama sih bener2 sukses bikin badan klenger & yang kedua juga tetep klenger sih sebenernya. tapi emang berkesan banget lewat cetho hehe. kapan2 kala ada pasukan mau kesana lewat cetho lagi ah hehe

    BalasHapus
  7. Jadi intinya meskipun sampai klenger tapi tetep nagih ya mbak lewat jalur itu. Saya pun ingin ke sana lagi kalau ada waktu dan kesempatan. Ngerasain lawu yang sesungguhnya ya lewat jalur ini

    BalasHapus
  8. Iya mas. Emang luar biasa banget jalur ini. Dulu sih pas kesana pas masih sepi pendaki, kerasa banget luar biasanyaa hehe. Nggak tau kalo sekarang, kayaknya lg ngetren lewat cetho mas hehehe

    BalasHapus
  9. Kmrin sempet nyasar ke track ceto bang pas turun ke cmoro kandang semeru.. ya bagus sih tapi panjangg banget tracknya.. truss bener g ada bonus sma skali bener2 menguji metal.. itu pun ak dlam keadaan turun makan waktu 6 jam.. apalagi naik.. smpet ketemu pendaki ngecamp di pos 5 di deket sabana katanya naik lewat situ 12 jam.

    BalasHapus
  10. Makasih mas udah sharing cerita di sini. Betul sekali apa yang mas ceritakan. Lewat track ini dijamin kaki gempor dan bakal sering bilang dalam hati "aku lelaah". Haha. Saya terakhir menuruni trek ini dari pos V jam 3 sore, sampai di basecamp jam 11 malam!!! Benar2 luar biasa

    BalasHapus
  11. Hallo saya nongol lagi..kemaeinvt tanggal 2 februari habis nanjak lewat cetho lagi nih, tp nggak papasan sama rombongan lain hehe

    BalasHapus
  12. paling cepet brapa jam bro perjalanan jalur candi cetho ?

    BalasHapus
  13. Basceamp nya disebelah mana ya mas kalo dari candhi cetho nya? Makasih

    BalasHapus
  14. Nimbrung lagi, sampe februari kemarin belum ada basecamp disana. Kalo mau nitip kendaraan bisa di rumah paling atas, persis dibawah candinya hehe. Kalo mau registrasi / sekedar pamit bisa ijin sama pak lurah / pak RT nya hehe

    BalasHapus
  15. Makasih kak Yusrika FD sudah membantu ngeramein di post saya. Sepertinya saya belum nemu pendaki cewek yang seringnya naik ke Cetho sesering kakak hehe.
    Update, perjalanan dari basecamp sampai pos V memakan waktu kurang lebih 12 jam

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe. nggak sering kok kak, kebetulan ada temen yang pingin kesana dan ngajak saya krn tau jalan doang :D. salam kenal kak :D

      Hapus
  16. Setuju banget juragan, kalo saya sih dulu pertama kali kesana langsung dapat kesan mistin..tapi insyaallah nanti balik lagi 😂

    BalasHapus