Jumat, 16 Mei 2014

Pengalaman Jadi Guide Pendaki Asing part 1

3 comments
Lagi-lagi Lawu menyapa saya, memberi pengalaman lewat perjalanan yang tak terlupakan. Sebelumnya tak pernah terbayang di benak saya bakalan dapet pengalaman random semacam menjadi guide pendakian gunung, apalagi buat seorang pendaki asing. Mendaki gunung memang jadi salah satu hobi yang saya gandrungi sejak sma dan alhamdulillah masih berlanjut, meski rambut mulai memutih dan usia tak semuda dulu hahaha. Awalnya sih, saya hanya denger2 cerita dari seorang teman yang temannya teman itu #loh sering mengantar para pendaki asing mendaki gunung-gunung di Indonesia. Dari aktifitas tersebut, selain dapat banyak pengalaman tentunya ia juga mendapatkan uang atas jasanya sebagai seorang guide. Berawal dari negara api menyerang cerita itulah, saya pun mulai terpancing dan antusias untuk mencari tahu tentang profesi guide pendakian di internet. Tanpa disengaja, saya menemukan sebuah situs berbahasa Inggris yang berisi tentang hobi mendaki gunung-gunung di Indonesia. Lengkap banget isinya, mulai dari data-data gunung di Indonesia yang dapat didaki dari ujung Sabang-Merauke (jumlahnya sampai ratusan), catatan-catatan perjalanan, hingga rangkuman nama guide lokal yang siap memandu para pendaki di gunung-gunung tersebut. Situs ini menjadi semacam ajang berkumpul dan media bertukar info di dunia maya bagi para ekspat/orang asing yang tertarik menjelajahi gunung-gunung di Indonesia.

Eh rupanya di sana juga disediakan form bagi pengunjung yang ingin mendaftarkan diri sebagai guide. Uniknya si pengelola situs tidak meminta bayaran sepeser pun dari kita dan sifat pekerjaannya bersifat freelance. Jadi, ia hanya bertindak sebagai fasilitator, sedangkan transaksi bisnis sepenuhnya diserahkan kepada si guide dan pengguna jasa. Setelah membaca syarat-syaratnya, iseng-isenglah saya mendaftar. Terdapat beberapa pertanyaan yang harus saya isi, seperti mengenai kemampuan bahasa Inggris, berapa tarif guide per hari, dan gunung apa yang telah dikuasai. Jujur saja, saya memang bukan pendaki kawakan, jadi awalnya agak ragu. Tapi kalau untuk gunung2 yang tidak terlalu sulit didaki seperti Gunung Lawu dan Merbabu yaaah saya lumayan punya sedikit cerita-lah, hehehe. Ketik-ketik-ketik dan submit, terpampanglah nama saya sebagai salah satu guide di situs tersebut dengan Gunung Lawu dan Merbabu sebagai destinasi yang saya tawarkan. Kepada pengelola situs saya katakan kalau cuman bisa memandu selama weekend dan hari libur nasional. Yah maklum kegiatan utama saya di Jogja ini kan sebagai buruh, buruh berpakaian necis. Niatnya sih, mendaftar jadi guide cuman sebagai sampingan, kegiatan pelepas penat sembari menyalurkan hobi nanjak.

Sebuah e-mail nyasar yang absurd

Setelah sekian waktu, kegiatan saya berjalan normal seperti biasa. Bangun pagi, mandi, sarapan (kalau inget), masuk kerja, pulang sore, atau menyalurkan hobi ngeblog/kuliner. Saya sudah lupa kalau pernah ndaftar sebagai guide hahaha. Sampai suatu pagi di tempat kerja, tiada angin dan hujan, tetiba sebuah email nyasar ke inbox. Bunyinya sangat singkat dan terkesan kurang meyakinkan.

Halo Pak Satyo,
Saya dapat email anda dari gunungbagging. Akhir minggu ini ada rencana hiking Merbabu?. Saya ingin pergi. Nomor saya 081-19404509.
Eugene

Setelah membacanya, saya agak ragu dan bertanya-tanya, ini email nyasar apa memang ditujukan ke saya. Jangan-jangan cuman spam. Tapi kalau dilihat dari kontennya, sepertinya email ini berhubungan dengan nama saya yang terdaftar di gunung bagging sebab di sana nama samaran itu yang saya pakai. Sebelum berandai-andai lebih jauh, saya terlebih dahulu melakukan verifikasi identitas si pengirim. Caranya sih sangat sederhana, cukup bertanya ke mbah google untuk tahu nama ini cuman id klonengan alias fiktif atau nama orang yang benar-benar jelas identitasnya. Browsing-browsing-browsing, syukurlah si pengirim rupanya punya jejak virtual yang lumayan meyakinkan.

Berbekal inilah, saya pun memberanikan diri menghubungi si pengirim e-mail via sms hingga akhirnya ia menelpon saya secara langsung. Alhamdulillah, si orang asing ternyata cukup fasih berbahasa Indonesia meski logatnya sangat formal sehingga kami tidak terlalu kesulitan berkomunikasi. Ia menanyakan banyak hal terkait informasi pendakian gunung.

Me    : Ingin mendaki ke gunung mana pak?
A      : Antara Merbabu dan Lawu, mana yang lebih bagus. Saya ingin mendaki gunung itu tapi kalau  bisa yang tidak memakan waktu lebih dari 2 hari dan tidak perlu berkemah di sana.
Me   : Wah dua-duanya sama bagus pak sebenarnya (mikir-mikir). Namun jika Bapak ingin yang seperti itu, saya sarankan ke Lawu saja. (Pertimbangan saya, karena di Lawu lebih mudah dijangkau dengan berbagai transportasi, jalurnya sudah sangat tertata via Cemoro Sewu, dan satu lagi ada warung Mbok Yem hehehe. Jadi nggak perlu repot-repot bawa carrier segede kulkas, cukup bawa air minum dan makanan ringan seperlunya).
A      : Oh Lawu ya, saya belum pernah ke sana. Bagaimana caranya ke sana?. Saya sekarang sedang berada di Hotel Rich Jogja. Apakah ada mobil?
Me   : Waduh saya nggak ada transport mobil tuh Pak (guide ra modal wkwk). Jadi Bapak ke kota Solo dulu dengan kereta prameks. Setelah itu, saya jemput di stasiun dan kita lanjutkan dengan naik motor sampai ke basecamp Gunung Lawu. Begini saja Pak, saya kirimkan iteniary via e-mail (semacam rencana perjalanan lengkap dengan run down kegiatan).
A      : Okay
Me    : Errrrr, sebelumnya apa pernah punya pengalaman pendakian pak?
A    : Yaaa tentu saja, saya pernah ke Gunung Rinjani, Gunung Merapi, dan dulu juga pernah ke Gunung di Nepal
Me   : Waaaak (sensor), jangan2 guidenya kalah pengalaman nih sama yang di-guide (kalau ini hanya dialog batin penulis)

Dari Solo Balapan ke kaki Gunung Lawu

Biar nggak kepanjangan haha, singkat cerita si Bapak menyetujui iteniary yang saya tawarkan. Kami pun sepakat untuk mendaki Gunung Lawu pada hari Minggu, sehari sebelum libur hari raya Nyepi. Garis besar rencananya, kami akan berangkat dari Solo pada ba’da ashar menuju basecamp pendakian yang terletak di Cemoro Sewu, Jawa Timur. Kemudian pendakian akan dimulai selepas senja terus hingga sampai di pos terakhir Sendang Drajat. Di sana kami akan beristirahat sejenak, sembari menunggu matahari terbit, dan baru turun gunung setelahnya. Rencana perjalanan yang sangat sederhana yang kelak akan memberi saya banyak pelajaran.

Hari minggu siang saya menjemput sang client di Hotel Loji yang berada tidak jauh dari stasiun balapan. Di sanalah, saya pertama kali bertatap muka dengan (calon) pendaki asing, teman perjalanan kelak. Impresi pertama ketika bertemu ternyata sungguh berbeda dengan bayangan saya sebelumnya. Ternyata dia masih cukup muda dan kalau dilihat dari penampakannya jelas bukan bule atau orang barat. Kenalkan nama saya Eugene, ucapnya singkat membuka pembicaraan. Ya dari penampilan fisik tidak jauh berbeda dengan saudara kita orang tionghoa di Indonesia, batin saya. Rupanya Pak Eugene adalah warga negara Singapura yang sedang mengadu nasib di Indonesia. Tapi jangan salah ya, mengadu nasibnya orang asing di sini jelas berbeda dengan kebanyakan saudara setanah air kita di Timur Tengah atau Malaysia. Ia bekerja sebagai tenaga ahli pembangunan pembangkit listrik tenaga angin pertama di Indonesia yang terletak di pantai samas bantul. Sebelumnya, ia pernah melanglang buana di berbagai negara untuk menyelesaikan proyek serupa.

Dialog Mitos di seputar Gunung Lawu, kearifan lokal atau hanya fiktif yang tak logis

Kami bertolak dari solo pukul ½ 4 sore. Cuaca yang mulai berawan sempat membuat saya was-was. Dan benar saja, hujan mulai mengguyur di tengah perjalanan kami. Nampak kalau pak eugene kurang berkenan dengan cuaca yang kurang mendukung ini, apalagi kami berdua naik sepeda motor. Tapi ya sudahlah apa mau dikata, yang penting kami harus muncak hari ini.

Hampir satu setengah jam berkendara, tak terasa kami telah melewati pasar tawangmangu mendekati basecamp lawu di cemoro sewu. Hujan yang semakin deras memaksa kami untuk ‘ngeyup’ sejenak di warung-warung tak jauh dari basecamp. Ngisi perut dulu lah pak, sebelum nanjak. Sembari menunggu hujan reda, kami menyantap hidangan yang dipesan dari pemilik warung. Pak Eugene pesan mie goreng dan sate ayam. Saya memilih menu nasi goreng.

A    : Pak Satyo kurus sekali ya... (Selorohnya blak-blakan membuka pembicaraan)
Me  : Hahaha kalau ini memang dari sononya Pak, gawan bayi kata orang Jawa

Sedikit demi sedikit kami mulai saling berbagi cerita. Sebagai guide, saya merasa punya kewajiban untuk menceritakan latar belakang gunung Lawu kepadanya. Cerita saya awali dengan menjelaskan aturan pendakian dan mitos-mitos yang menyelimuti gunung yang masih dianggap sakral bagi masyarakat Jawa ini.

Ketika berada di gunung, pada dasarnya kita adalah tamu atau orang asing yang berkunjung ke rumah orang lain. Itulah falsafah yang saya yakini. Trus Gunung rumah siapa???. Jangan salah, meski alam liar tak bertuan gunung adalah rumah bagi banyak makhluk ciptaan Tuhan. Ada tetumbuhan, pohon-pohon, dan semak belukar, aneka satwa, burung, serangga, dan ssssttttt termasuk juga makhluk Tuhan yang tak kasat mata manusia. #merinding. Sudah mafhum kalau gunung sering dianggap sebagai kerajaan bangsa jin. Dan setahu saya ini memang benar adanya. Untuk itulah kita harus tahu bagaimana bersikap layaknya tamu yang sopan meski itu di gunung.

Pembicaraan berubah menjadi seru ketika saya menceritakan mitos pasar setan yang diyakini ada di beberapa gunung-gunung Indonesia. Apa itu pasar setan, tanyanya antusias. Karena keterbatasan kosakata, saya jelaskan dengan definisi singkat pasar setan itu ya ghost market pak XD. Kemudian saya menceritakan kembali pengalaman para pendaki yang berada di entah berantah, namun mendadak mendengar keramaian, mirip suasana pasar di mana ada transaksi jual beli dan sampah-sampah berserakan. Jika pendaki itu ‘beruntung’, ia akan diajak bertransaksi dengan “pedagang pasar” dan membawa barang2 spesial yang anehnya tetap wujud (tidak hilang). Di keesokan paginya pasar itu menghilang seperti ditelan bumi tanpa bekas.

Bagaimana mungkin ada pasar di tengah gunung, tanya pak Eugene. Berkali-kali ia menyelidik keheranan sambil mengeryitkan dahi tanda ada sesuatu yang tak logis dalam benaknya. Terlebih ketika saya jelaskan beberapa pantangan di gunung yang sebaiknya diindahkan pendaki, seperti larangan berkata-kata kotor, tidak mengumpat, dan tidak gampang mengeluh (ah capek, ah dingin, dsb). Ia bertambah keheranan dengan semua penjelasan itu.

Meski sering disebut mitos dan terkesan tak logis, namun saya yakin sebagian dari mitos itu mungkin punya maksud baik di baliknya (ingat falsafah tamu). Ada yang mengatakan sebenarnya hal ini adalah cara nenek moyang kita untuk hidup berdampingan dan menghargai alam. Wallahu a’lam. Yah namanya juga Indonesia pak, yang begini2 sudah jadi cerita turun temurun. Setelah hujan reda, kami menuju basecamp untuk mempersiapkan diri.

to be continued...

3 komentar:

  1. Menemukan (lagi) blog super ketjeh di Bs. Ya, walau saya udah jarang update :) Semoga blognya berkah dan membawa manfaat, mimin sholeh/ah :)

    BalasHapus
  2. Terimakasih sudah mampir mas. Blog ini memang sy dedikasikan untuk media saling menginspirasi. Ayo diaktifin lagi blognya, semangat :D

    BalasHapus
  3. makasih yo mas buat tulisannya...sy tertarik sama situsnya, gunungbagging.com ya? pengen bikin yg kira2 mirip sama gunungbagging tuh :D

    BalasHapus