Rabu, 28 Oktober 2015

Gundam, Mainan Yang Membawa Kenangan Masa Kecilku

Leave a Comment
“Udah gede kok masih mainan robot-robotan?”. “Kurang lama ya jadi anak-anaknya”. 


Pertanyaan itulah yang mungkin sering dilontarkan orang ketika melihat kita yang notabene udah segedhe gaban gini masih asyik ngutak-atik mainan, hehehe. Entah itu berupa action figure, model kits militer, mobil-mobil die cast, maupun gundam plastic models seperti yang saya gandrungi. Ya meski umur sudah mencapai seperempat abad, rasanya masih belum bosan sama mainan yang satu ini.

Sebenarnya sih bukan murni mainan juga, karena lebih tepat disebut sebagai benda koleksi yang berharga. Toh ‘mainan’ itu lebih banyak dipajang untuk dinikmati keindahannya dibanding dimain-mainkan seperti mainan lainnya. Berharga bukan karena nilai ekonominya namun karena nilai kenangan yang terkandung di dalamnya. Ceileh.

Awal mula kenalan sama si Gundam 

Kisahnya, satu ketika saya yang waktu itu masih bocah (kelas 4 SD), diajak orang tua berbelanja ke sebuah mall di kota Purwokerto. Waktu itu, kami sekeluarga memang sedang berlibur ke rumah pakdhe yang baru saja pindah dinas ke sana. Tentu saja sebagai anak-anak, saya langsung menuju ke counter mainan di mall tersebut.

Gundam jadul yang pertama saya kenal
Perhatian saya tertuju pada tumpukan box mainan bergambar robot yang sangat keren. Ada berbagai macam jenis, mulai dari robot yang bisa berubah menjadi pesawat tempur hingga tank. Saya memilih satu box bergambar robot tank. Untunglah waktu itu, orang tua sedang ada rejeki sehingga tanpa harus merengek-rengek saya pun berhasil membawanya pulang. Sesampainya di rumah, bayangan saya robot itu sudah langsung jadi tinggal pasang-pasang bagiannya. Namun saya salah. Di dalam box ternyata terdapat puluhan potongan plastik yang nyaris tidak menunjukkan itu sebuah robot. Lha trus mana robotnya nih, gumam saya waktu itu.

Setelah bertanya dengan orang yang lebih tua barulah saya tahu. Alamak robotnya masih harus dirakit. Ada buku manual yang kira-kira menjadi petunjuk bagaimana cara merangkainya menjadi robot yang utuh. Awalnya dengan modal nekat saya coba merangkainya sendiri dengan mengikuti buku manual. Yaa namanya masih kecil, daya pikir saya yang terbatas belum bisa memahami instruksi dalam manual itu sehingga robot pun gagal diselesaikan.

Barulah setelah mendapat bantuan kakak sepupu yang sudah duduk di bangku SMP, mainan robot itu berhasil diselesaikan. Kenangan masa kecil itu kadang kembali terlintas ketika saya sedang merakit gundam. Usut punya usut, robot yang saya beli waktu itu adalah HG RX-75 Guntank. Sayangnya si robot sekarang tinggal potongan-potongan kecil yang tidak utuh lagi karena terlalu sering saya mainin haha.

Kenapa laki-laki dewasa masih tertarik pada mainan? 

Gundam itu mengajarkan pentingnya proses, mencapai sesuatu nggak bisa instan tapi dinikmatin prosesnya
Ada pepatah Inggris yang cukup populer, “Boys will always be boys”. Artinya kurang lebih anak laki-laki akan selalu menjaga sebagian sifat kekanak-kanakannya meski ia sudah beranjak dewasa. Berbeda dengan kaum perempuan yang jika sudah dewasa akan dewasa sepenuhnya. Contohnya nih, pernah liat nggak bro ibu-ibu atau mbak-mbak yang sudah dewasa masih suka ngoleksi boneka barbie lengkap dengan rumah-rumahannya dan baju-baju gantinya. Atau ibu-ibu yang udah gendong anak tapi masih suka koleksi mainan yang dulu mereka sukai semasa kecil. Jawabannya tentu sangat sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada. Inilah yang membedakan kaum adam dan hawa. Sehingga jangan heran kalau sebagian besar pecinta aneka mainan seperti yang saya sebutkan di atas didominasi kaum pria.

Satu lagi alasan mengapa laki-laki tetap hobi mainan meski udah gede adalah mainan itu seperti menjadi penghubung dengan kenangan masa kecilnya. Masa di mana si laki-laki masih menjadi anak-anak yang bebas bermain dan belum terbebani aneka tanggungjawab sebagai orang dewasa. Ketika menyentuh mainan itu seperti ada sebagian memori indah di masa lalu yang disuntikkan ke pikirannya sehingga menimbulkan perasaan bahagia. Yang sekarang ngoleksi action figure kamen rider mungkin dulu pas kecil ngefans banget sama karakter satria baja hitam di TV. Kalau hobi die cast mobil mungkin karena masa kecilnya dipenuhi dengan aneka mainan bergenre alat-alat transportasi.

Saya sendiri mengapa mengoleksi gundam, karena sejak kecil saya sangat menggandrungi serial-serial animasi bergenre mecha (robot mekanik). Entah itu bikinan Jepang atau Amerika. Pokoknya kalau ada kartun yang menampilkan aksi robot-robot yang bisa bertarung hampir pasti saya tonton. Sebut saja, Astroboy, Voltron, Patlabor, Power Ranger, Transformer, Gundam, dan masih banyak lagi. Apalagi ketika menemukan mainan dari karakter robot itu di mall, rasanya sungguh berbunga-bunga.

0 comments:

Posting Komentar